Memahami Tradisi Gugur Gunung Masyarakat Desa di Jawa yang Hampir Punah

Oleh

Nuning Turistiani, S.Pd Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 3 Subah

     Gugur gunung bisa diartikan sebagai Tindakan gotong royong. Istilah gugur gunung ini diadopsi dari Bahasa Jawa yang meupakan satu konsep sosial warisan leluhur Nusantara. Dalam gugur gunung yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa, mereka tidak mengenal adanya upah atau pamrih. Mereka bekerja bersama tanpa upah, tanpa pamrih. Mengutamakan kebersamaan, saling membantu, silaturahmi, bahu-membahu.

     Tradisi gugur gunung mengajarkan kita untuk memahami dan menerapkan makna ikhlas. Dalam kegiatan gugur gunung, mereka sudah merasa senang atau puas dengan makan dan minum sebagai ganti lelah. Bukan berarti tidak menghargai kerja seseorang. Ini dikarenakan gugur gunung atau gotong royong dalam konteks tertentu akan menciptakan semangat persatuan dan kesatuan masyarakat.

Tradhisi gugur gunung sangat popular dalam adat istiadat masyarakat Jawa sebagai konsep sosial yang luar biasa, tidak heran jika akhirnya ada lagu  berjudul “gugur gunung” dalam lagu campursari. Lirik lagu Gugur Gunung :

Ayo kanca ayo kanca                  (Ayo kawan ayo kawan)

Ngayahi karyaning praja             (Melaksanakan pekerjaan Negara)

Kene kene                                   (Kemari kemari)

Gugur gunung tandhang gawe   (Tanggung jawab dan gotong royong melakukan pekerjaan)

Sayuk sayuk rukun                    (Menciptakan kerukunan)

Bebarengan ro kancane             (Bersama dengan teman)

Lila lan legawa                         (Dengan rasa ikhlas)

kanggo kamulyaning negoro    (Untuk kesejahteraan Negara)

Siji loro telu papat…                (Satu dua tiga empat)

Maju papat papat                      (Maju empat empat)

Diulang ulungake                     (Dikerjakan bersama sama secara estafet)

Enggal rampunge                     (Agar cepat selesai)

Holobis kuntul                         (Seperti kuntul yang berbaris)

    Makna dari lagu “Gugur Gunung” di atas adalah mengajak kita Bersama-sama dan saling bahu-mambahu dalam membersihkan atau menata lingkungan. Lingkungan yang dimaksud dalam lagu ini masih bisa diartikan secara luas. Bisa lingkungan rumah, sekolah, desa, kampung, kota, hingga negara. Setiap individu memiliki kewajiban yang sama untuk membersihkan lingkungan. Begitu pula dengan hak, setiap individu juga memiliki hak yang seimbang untuk memperoleh tempat tinggal yang layak. Untuk bisa mendapatkan lingkungan dan tempat tinggal yang layak, gotong royong bisa menjadi pilihan yang tepat.

     Dalam Bahasa Jawa, dijelaskan bahwa gugur gunung memiliki beberapa manfaat, antara lain bisa mempererat persaudaraan, menciptakan hidup rukun dengan sesame, meringankan pekerjaan yang berat. Gugur gunung juga menjadi sarana untuk menyadarkan warga bahwa mereka bertanggungjawab mengayomi dan menjaga lingkungan tempat tinggalnya, selain itu juga untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan.

Biasanya gugur gunung dilakukan saat hari Minggu, hari libur, atau menjelang hari raya dan hari peringatan kemerdekaan. Kegiatan yang sifatnya sederhana ini jelas memiliki nilai-nilai positif yang bisa dijadikan pelajaran. Gugur gunung mengajarkan kita bahwa kebersamaan dan kekeluargaan adalah hal penting yang harus selalu dijaga. Dengan gugur gunung pekerjaan yang tadinya berat akan menjadi ringan dan cepat selesai.

Dalam mengerjakan sebuah proyek, biasanya masyarakat desa melakukannya secara gotong royong. Namun seiring kemajuan zaman, budaya itu semakin jarang ditemui bahkan nyaris punah. Di beberapa tempat, budaya gotong royong itu masih dipertahankan walau butuh perjuangan. Kegiatan gugur gunung sudah meluntur, kebanyakan orang hanya memikirkan fasilitas atau benda pribadinya.

     Kegiatan gugur gunung atau gotong royong membuat kita menyadari bahwa sebagai manusia kita punya kewajiban untuk bertanggung jawab pada lingkungan tempat tinggal. Menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama juga merekatkan hubungan antar warga. Setiap individu merasa menjadi bagian berarti dari masyarakat. Nilai gotong royong melekat kuat dalam masyarakat Indonesia, terutama pada masyarakat di pedesaan. Sebagai masyarakat Indonesia yang lekat dengan adat dan budaya, kearifan lokal semacam ini jelas perlu dilestarikan. Jangan sampai nilai-nilai budaya yang luhur harus luntur, dilupakan dan tergerus zaman.(*)