SEMARANG, Mediajateng.net – Pagi adalah keramat yang ciptakan Tuhan bagi pintu rizki yang tersebar di manapun, termasuk di tepi bukit dan jurang Sigar Bencah, Tembalang Semarang.

Ini adalah kisah Mbah Gombrang, seorang penjaja kopi dan makanan ringan di sisi Jurang Sigar Bencah Semarang. Hampir satu tahun dia membuka warung bersama suaminya.

“Warung ini jadi sampingan, dengan bapak biasanya bertani. Tapi lahannya tidak terlalu luas. Untuk mencukupi kebutuhan di luar panen, kami membuka warung,” katanya, Kamis (15/2).

Matahari belum sempurna sepenggal. Namun telah bergelas-gelas kopi dia sajikan untuk pelanggan. Agar perut pelanggan tidak keroncongan, ketela dan tempe goreng pagi-pagi dia racik dan juga nasi bungkus.

“Kebanyakan pelanggannya supir truk yang hendak menuruni tanjakan Sigar Bencah ini mas. Mereka ngopi dan makan jajanan di sini dulu ketika pagi sebelum turun,” katanya.

Memang cukup memerlukan nyali besar untuk menuruni tanjakan dengan ketinggian sekitar 100 meter dan panjang 1,5 kilometer tersebut.

“Setiap pagi setidaknya 15 truk berhenti di sini. Hasilnya lumayan, daripada setelah subuh tidur atau tidak jelas ingin ngapain,” katanya sambil melanjutkan menumis bumbu. Dia hendak membuat sambal terong. Pantas saja sopir truk banyak berhenti, aroma masakannya sedemikian menyengat hidung. Beberapa sopir pun tak kuasa menahan bersin.

Kawasan Sigar Bencah adalah patahan atau tebing bukit yang panjangnya lebih dari 3 Kilometer membentang dari Desa Bulusan sampai Desa Mangunharjo, dan juga Kelurahan Tembalang. Ketiga wilayah tersebut masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Memang tempatnya sangat menakjubkan karena dari atas tebing kita bisa menyaksikan barisan bukit-bukit menjulang. Dari sini juga bisa kita simak patahan bukit brown canyon, sampai gunung Merbabu dan Telomoyo jika cuaca cerah.

Anwar Fuadi, salah satu pembeli sengaja memilih warung Mbah Gombrang untuk menikmati kopi di pagi hari. Keindahan dan kesejukan alam menjadi alasan utama.

“Selain itu juga untuk rehat sejenak. Jika nyupir truk menuruni Sigar Bencah, memerlukan tenaga yang ekstra. Jika tidak hati-hati bisa bahaya, bahkan terguling,” katanya.

Bersama tujuh kawannya, pagi itu dia bertahan hingga pukul 06.15 wib. Tak lama berselang satu persatu mulai menuruni bukit yang juga terkenal angker tersebut.

“Sebelum jam berangkat sekolah dan kerja sudah harus turun. Menjaga keamanan dan keselamatan bersama, menuruni jalan ini truk pasti menghindari jam ramai,” katanya.