Masyarakat Usia Produktif Di Kota Semarang mudah Terkena Sasaran Virus HIV

Semarang – mrdiajateng.net

Usia Produktif menjadi harapan untuk berkembangnya Bangsa di masa mendatang, kini justru dihadapkan pada keberadaan penyebaran virus HIV/AIDS. Menurut Ketua Rumah Aira, Anita Toresia di semarang hampir tiap bulan ditemukan satu kasus penderita HIV. Bahkan dari temuan tersebut justru didapati di usia produktif. Persoalan Pergaulan Bebas, seperti sex bebas dan penyalahgunaan narkoba membuat tak sedikit generasi muda mengidap penyakit yang hingga kini belum di temukan obatnya.

“Di rumah Aira kita melakukan pendampingan delapan penderita HIV yang mayoritas masih usia muda” ujar Anita.

Kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini akan keberadaan virus HIV/AIDS terutama yang memiliki resiko melakukan aktivitas yang mengarah pada penyebaran virus ini masih saja terkendala. Padahal akses untuk melakukan tes VCT sudah terbuka lebar bisa dilakukan di puskesmas. Bahkan tak sedikit LSM yang siap melakukan pendampingan dari pemeriksaan hingga sampai melakukan pengobatan. Dengan mengetahui status sedini mungkin akan memudahkan pengobatan, mengingat dengan kepatuhan dalam konsumsi obat ARV, mampu menekan berkembangnya sejumlah infeksi yang dialami ODHA.

“HIV bisa dikendalikan selama penderita disiplin dalam mengkonsumsi ARV. Harapan hidup bagi ODHA pun makin meningkat” ujar Pembina Rumah Aira, Mama Lena.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan HIV/Aids, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang mengelar kampanye “Pentas Amal bersama Rumah Aira” yang dilangsungkan Minggu (7/5) di Car Free Day, Jalan Pahlawan Semarang. Menurut Ketua Aksi, Munawar Abu Bakar Sidiq mengaku kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian mahasiswa untuk mensosialisasikan HIV/AIDS, selain memberikan informasi tentang penyebaran dan penanganan. Kampanye juga difokuskan untuk mengedukasi masyarakat untuk menjauhi penyakitnya, bukan penderitanya.

“Pentas amal ini juga menggalang dana untuk pengembangan program sosialisasi dan penanganan HIV” ujar Munawar.

Munawar menambahkan kampanye ini sebagai bentuk mahasiswa dalam mengaplikasikan mata kuliah Komunikasi Politik, sehingga tidak hanya belajar teori semata namun bisa membuat sebuah kampanye untuk persoalan kebijakan publik (MJ-202)