SEMARANG, Mediajateng.net- Pemecahan titik keramaian Kota Semarang menjadi fokus Walikota Semarang, Hendrar Prihadi sejak dilantik memipin Kota Semarang pada tanggal 17 Februari 2016.

Dalam upayanya tersebut, Walikota Semarang yang juga akrab disapa Hendi itu menjalankan pola pemerataan pembangunan yang lebih memprioritaskan pembangunan di wilayah pinggir Kota Semarang. Hal tersebut disampaikannya selepas memimpin rapat Forum Gabungan OPD Pemerintah Kota Semarang, di Balaikota Semarang.

“Sewaktu dilantik menjadi Walikota Semarang, ada sembilan program besar yang saya bawa, selain Unit Reaksi Cepat Kesehatan dan Peningkatakan Peran Wanita, sisanya fokus pada pembenahan dan pengembangan kawasan sub pusat kota, seperti pembangunan Taman Kota dengan Wifi, Underpass Jatingaleh, Normalisasi Banjir Kanal Timur, Kampung Wisata Bahari Tambaklorok, Simpang Lima Kedua, Semarang Expo Center, dan LRT”, jelas Hendi, kepada Mediajateng.net, Selasa (6/3/18).

“Alhamdulillah, hari ini hampir semuanya sudah berjalan, bahkan sebagai sudah rampung, PR besarnya untuk segera dimulai pengerjaannya tinggal tiga, yatu Simpang Lima Kedua, Semarang Expo Center, dan LRT yang hari ini kita diskusikan dengan sedulur-sedulur OPD di pemerintah kota”, lanjutnya.

Namun terkait LRT atau light Rail Transit atau Monorail, Simpang Lima kedua, dan Semarang Expo Center, Hendi meyakinkan segera dimulai sebelum periode masa jabatannya saat ini habis, yaitu di tahun 2021.

“LRT sudah masuk kajian, Simpang Lima Kedua tahun ini sudah penyusunan Detail Enginering Design (DED), pembangunan Semarang Expo Center dalam hitungan kami tadi sudah bisa dimulai tahun depan”, tegas Hendi.

Selain itu sebagai bagian dari upaya pembangunan yang lebih fokus dan merata ke semua wilayah, Hendi juga menyampaikan sedang melakukan kajian untuk pemekaran kecamatan yang ada di Kota Semarang. “Kota Semarang ini sebagai sebuah kota jumlah kecamatannya terlalu sedikit, sehingga masing-masing camat jadi mengotrol wilayah yang terlalu luas, ini menjadi perhatian kami”, pungkas Hendi.

“Di kota-kota lain, terkhusus yang merupakan ibu kota provinsi, rata-rata kecamatannya berjumlah 30, dan di Kota Semarang juga seharusnya begitu, mungkin antara 30 sampai 32 Kecamatan”, tambahnya.

Hendi mengharapkan dengan adanya pemekaran kecamatan tersebut, tidak ada wilayah yang terlewatkan pembangunannya, karena masing-masing camat dapat lebih mudah untuk melakukan kontrol wilayah. Dengan begitu dirinya yakin bahwa pemerataan pembangunan dapat lebih mudah diupayakan.(edo-Mj)