SEMARANG, mediajateng.net, –  Melestarikan budaya lokal ditengah serbuan budaya kontemporer haruslah menjadi perhatian bersama. Seperti seni budaya ketoprak Truthuk di Kota Semarang yang terancam punah. Apalagi, generasi muda sekarang ini kurang paham dan antusias terhadap seni budaya tersebut.

Kasie Atraksi Budaya Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Sarosa mengatakan, kemunduran dan tenggelamnya seni ketoprak Truthuk bukalah sebuah mitos. Karenanya, program dan kegiatan pengenalan atraksi budaya seni tradisi  ketoprak Truthuk kepada generasi muda harus lebih digencarkan.

“Banyaknya budaya luar yang ikut masuk ke dalam seiring dengan arus globalisasi ikut menggerus seni budaya ini,” terangnya di sela Pagelaran Ketoprak Truthuk di Obyek Wisata Goa Kreo, belum lama ini.

Sarosa mengakui jenis kesenian ini juga kurang promosi. Kegiatan pelestarian budaya kepada masyarakat terutama anak muda juga kurang sehingga mereka sama sekali tidak paham apa itu ketoprak Truthuk.

Karenanya, bersama Komunitas Tirang, pihaknya berusaha membangkitkan kembali kesenian yang nyaris punah ini. Diharapkan dengan disajikan di obyek wisata dan di akhir pekan dimana tingkat kunjungan wisata tinggi, warga semakin mengerti dan paham.

“Ketoprak Truthuk  merupakan salah satu bentuk kesenian teater tradisi dari Kota Semarang. Pada awalnya kesenian ini  banyak dilakukan oleh masyarakat jaman dulu pada saat bulan purnama, dimana kesenian ini dulu merupakan ajang berinteraksi, dan berekspresi dengan menggunakan media apa adanya baik tempat, busana maupun iringan musiknya,” ceritanya.

Pada awalnya, kata dia, iringannya  hanya  bunyi-bunyian yang berasal dari bambu yang dipukul atau kentongan. Biasanya tema cerita banyak menceritakan legenda, mitos dan sejarah kerajaan yang ada di Pulau Jawa.

Hal  ini sebagai bahan penyampain pesan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap cerita yang dimainkannya. Adapun pada perkembangannya  Truthuk  ini  berubah menjadi sebuah seni drama tradisi baik ketoprak, drama, sandiwara dan lain-lain dimana pada kemasannya menjadi lebih sedikit tertata baik dari cara pemerannya medianya maupun iringan musiknya.

“Kesemuanya itu mempunyai tujuan yang sama yaitu penyampaian pesan lewat ucapan / lisan yang dikemas dalam sebuah seni tradisi,” katanya.

Setelah sekian lama kesenian Truthuk ini jarang dimainkan dan dipentaskan maka  Disbudpar Kota Semarang  kembali mencoba  mulai menggali dan mengemas kesenian Trutuk ini menjadi sebuah seni pertunjukan yang pada konsepnya sedikit berubah dengan mengambil cerita-cerita tentang  kehidupan sosial masyarakat jaman sekarang atau mengangkat isu-isu yang berkembang di masyarakat.

Sebagai bahan penyampaian pesan moral, dan pengemasannyapun sedikit mengikuti perkembangan, baik drama turginya busananya maupun iringan musiknya yang ditambah dengan sedikit instrumen gamelan, untuk menambah harmoni dan irama dalam setiap penggarapannya tanpa meninggalkan nilai-nilai estetika yang terkandung dalam seni Trutuk itu sendiri. (ot/mj)