SEMARANG, Mediajateng.net – Dari beragam jenis tumpeng, satu di antaranya menjadi simbol daur kehidupan bagi masyarakat Jawa, yaitu tumpeng bathok bolu. Keberadaan tumpeng tersebut, bermula dari tanah Sambiroto, Purwomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta.

Berada dalam deretan jenis makanan kreasi dalam selamatan, tumpeng dianggap sakral sebagai simbol bahwa hubungan antara hamba dan Tuhannya haruslah dengan hati yang bersih, sebagaimana nasi berwarna putih.

“Sakral karena dikeluarkan pada tiga daur kehidupan, metu, manten dan mati,” demikian dijelaskan Dr. Imam Baehaqi yang meneliti jajanan dalam selamatan masyarakat Jawa.

Dinamakan tumpeng bathok bolu, karena tumpeng ditaruh di dalam bathok, tempurung kelapa yang bolu, bolong telur (berlubang tiga). Tiga lubang itulah simbol dari tiga daur kehidupan.

Metu, kata dia, adalah proses lahirnya manusia. Manten adalah terjadinya pernikahan. Sementara mati, proses keluarnya manusia dari dunia menuju fana.

“Tumpeng ditaruh di atas bathok yang dilubangi tiga, dengan tambahan telur utuh. Namun untuk tumpeng bathok bolu kematian, tidak disertai telur utuh,” kata doktor bahasa dari UNNES tersebut.

Alasannya, kata Imam, agar roh yang telah keluar dari jasad tidak menggelinding ke sana kemari seperti telur di atas bathok. Karena telur tersebut sebagai simbol perjalanan hidup.

Selain hal tersebut, tumpeng bathok bolu juga dikeluarkan ketika hari lahir atau wethon, dan ditaruh di bawah tempat tidur.

Untuk melengkapi tumpeng, masyarakat akan melengkapi dengan jajanan beraneka rupa yang bahannya didapat dari lingkungan sekitar.

Sudah tertanam di benak masyarakat Sambiroto ketika nama bathok bolu disebut. Ingatan mereka akan langsung melompat pada dua sosok, Ratu Ayu Wijaya Kusuma dan Pangeran Ganti atau pangeran Sujono.

Penamaan Sambiroto sendiri memiliki sejarah panjang. Bermula dari keberadaan lima tokoh Majapahit zaman Brawijaya yang Babat Alas di desa Sambiroto ini. Tokoh tersebut antara lain; Eyang Guru Mentani, Eyang Dunang Anupati, Eyang Surogati, Eyang Surodido dan Pangeran Ganti.

Namun, peran Eyang Guru Mentani lah yang dianggap paling berpengaruh dalam penamaan dusun “Sambiroto”. Eyang Guru Mentani merupakan penasihat Guru dari Kerajaan Majapahit yang diutus untuk mencari jamu. Maka setelah melakukan pengembaraan, Eyang Guru Mentani menemukan Daun obat Sambiroto yang berguna sebagai Jamu bagi orang jawa di dusun ini. Sehingga dusun ini dinamakan dusun Sambiroto

Jika lima tokoh tersebut berperan babat alas, maka Pangeran Sujono yang hidup pada masa kerajaan Yogyakarta melakukan perjuangan yang berbeda, sampai akhirnya mendapat julukan Pangeran Ganti, merujuk pada salah satu tokoh yang melakukan babat alas.

Masyarakat sekitar percaya, di daerah Sambiroto tersebut terdapat sebuah alas atau hutan bernama “alas Ketangga”. Menurut kepercayaan warga setempat, hutan itu dikuasai oleh jin Ratu Ayu Wijaya Kusuma dengan kratonnya bernama Kraton Bathok Bolu.

Namun akhirnya ratu penguasa kraton dan hutan itu bisa ditaklukkan oleh kerabat Kraton Yogyakarta bernama Pangeran Ganthi/Sujono, putra Sultan Hamengkubuwono V.

Masyarakat setempat beranggapan bahwa wahyu kraton telah turun di tempat mereka. Atas jasa Pangeran Ganthi itulah akhirnya masyarakat setempat mengadakan upacara adat Bathok Bolu dalam rangka memperingati turunnya wahyu kraton.

Untuk memperingati perjuangan pangeran Sujono, masyarakat setempat didukung Keraton Yogya sampai saat ini masih melakukan kirab bathok bolu setiap tanggal 10 Suro.

Masyarakat setempat percaya jika tradisi tersebut tidak dijalankan, mereka akan kena bebendu atau musibah.

Menyambung tradisi tersebut, maka di kalangan masyarakat setempat disebar kawruh bathok bolu isi madu (bolong telu) yang berarti wong asor nanging sugih kepinteran (orang miskin namun kaya pemikiran). Agar mereka menjaga kekayaan tradisi.