SEMARANG, Mediajateng.net, – Pemkot Semarang dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) Landfill Gas TPA Jatibarang Kota Semarang oleh PLN, Jumat (4/10).

Dengan adanya perjanjian ini maka listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah di Kota Semarang, yang saat ini sebesar 0,8 Megawatt, sudah dapat dimanfaatkan untuk menyuplai PLN unit induk distribusi Jateng & DIY. Adapun Usai penandatanganan itu, akan dimulai proses komisioning untuk supply listrik dapat berjalan lancar.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan upaya serius kota yang dipimpinnya adalah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), menjawab tantangan untuk mewujudkan Semarang sebagai Sustainable City (Kota Berkelanjutan).

Dengan jumlah total penduduk sebesar 1,7 juta orang, setiap harinya sebanyak 1.000-1.200 ton sampah dihasilkan. Karenanya, Hendi sapaa akrab Walikota Semarang meyakini, jika tidak ada upaya serius dalam mengelola sampah, maka akan dihasilkan timbunan sampah yang semakin besar dan menjadikan permasalahan lingkungan.
Di awal 2012, Pemerintah Kota Semarang lebih dulu memulai upayanya denga mendorong pengolahan sampah menjadi kompos dengan produksi 300-400 kubik per hari.

“Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sistem landfill gas bantuan dari Kerajaan Denmark senilai 46 miliar, juga support dari Kementrian PUPR, Kemenkomaritim, Kementrian Lingkungan Hidup, dan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah,” katanya.

“Dengan sistem tersebut, 9 hektar timbunan sampah di TPA Jatibarang ditutup dengan geo membran sehingga menghasilkan gas metana yang dapat dikonversikan menjadi listrik sebesar 0,8 Megawatt,” lanjutnya.

Namun di sisi lain, Hendi selaku Walikota Semarang menegaskan jika pekerjaan rumah Kota Semarang dalam pengelolaan sampah masih banyak. Pasalnya Kota Semarang saat ini juga sedang dalam tahap penyiapan PLTSa dengan kapasitas yang lebih besar, melalui skema pembiayaan KPBU senilai 1,4 triliun, yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2022.

“PRnya belum selesai. Ke depan, masih harus dilakukan kewajiban untuk mengawal dan memastikan supply ini lancar. Pemerintah kota pun masih akan terus mengolah 800-900 sisa sampah yang belum terolah dengan pola PLTSa menggunakan insenerator dengan produksi 15-22 Megawatt,” tegas Hendi. (ot/mj)