SEMARANG, Mediajateng.net – Kecintaan Yuliatiningrum terhadap kucing memang belum berlangsung lama, baru empat tahun. Namun tiba-tiba ada yang mengusik, puluhan kucing yang dia beri makan pagi dan sore tersebut dibantai orang tak bertanggung jawab.

Yuliatiningrum, (56) adalah warga candi permata selatan. Menjadi ibu dari tiga anak dan menjalani keseharian sebagai wirausaha membantu istrinya.

Setiap hari selama empat tahun belakangan, setiap pagi dan sore dia memberi makan puluhan kucing. Bukan anggora ataupun persia, kucing yang sudah seperti anaknya itu hanyalah kucing jawa yang hidup di pasar Krapyak, Semarang.

“Jadwal ngasih makan jam tujuh pagi dan lima sore, sebelum dan sesudah bekerja. Sebelum motorku masuk gapura pasar, kucing-kucing itu langsung berkerumun di pojok,” katanya, baru-baru ini.

Menurut Yuli, puluhan kucing-kucing yang ada di pasar Krapyak tersebut merupakan buangan dari warga sekitar. Berbagai jenis, dari kucing lokal yang murah harganya, sampai kucing-kucing peranakan yang harganya sampai jutaan.

“Mulanya ya karena kasihan. Kucing-kucing diliarkan tidak diberi makan bahkan sering ditendang dan dibuang,” katanya.

Pada saat mengenang pembuangan kucing-kucing tersebutlah, mata Yuli mulai memerah dan berkaca-kaca.

“Kok ada ya orang yang sampai hati menyiksa kucing seperti itu. Bagaimanapun juga kucing kan makhluk hidup,” katanya.

Kucing-kucing liar berkeliaran di Pasar Krapyak Semarang.
Kucing-kucing liar berkeliaran di Pasar Krapyak Semarang.

Tragedi penyiksaan kucing

Dengan pemberian makan oleh Yuli, justru semakin banyak warga yang membuang kucing di pasar. Yuli pun tidak mengeluh. Namun justru membuat oknum pedagang murka, terlebih yang berdagang daging dan ikan.

“Saya tidak masalah dengan semakin banyaknya kucing, yang berarti saya harus menambah uang untuk memberi makan. Tapi kenapa kucing-kucing itu harus disiksa,” keluh Yuli.

Penyiksaan itu, kata Yuli, dilakukan beberapa orang dengan alasan kucing itu buang air besar sembarangan. Meski sebenarnya menurut Yuli alasan tersebut tidak masuk akal, karena tempat pedagang-pedagang tersebut sudah diplester.

“Kucing-kucing itu dibanting, ditendang sampai dilempar ke atap. Bahkan sangat banyak yang dimasukkan karung dan dibuang ke sungai,” kata Yuli yang tak mampu membendung air matanya.

Bahkan dalam kurun waktu dua tahun, katanya, kucing yang telah mati mencapai ratusan. Itu juga yang membuat Yuli semakin kuat untuk ngurusi kucing-kucing liar tersebut.

“Di pelataran rumah, saya sudah mengubur lebih dari seratus kucing. Itu belum yang dibuang berkarung-karung di sungai,” katanya.

Dalam hati, katanya, saya bicara, ayo kuat-kuatan, kuat kalian yang menyiksa atau kuat aku. Dan dia terus berdoa pada Tuhan semoga dibukakan jalan agar penyiksaan ini berakhir.

“Akhirnya saya dipertemukan dengan Bu Dewi. Yang ternyata punya kegelisahan yang sama, bedanya kalau saya tidak pandai merawat kucing, Bu Dewi pintar,” katanya.

Dewi, salah satu partner Yuli yang memperjuangkan hidup kucing-kucing liar.
Dewi, salah satu partner Yuli yang memperjuangkan hidup kucing-kucing liar.

Menambahkan Yuli, Dewi menjelaskan bahwa dia beberapa kali memergoki penyiksaan dan pembuangan kucing-kucing dari pasar tersebut.

“Saya marah besar sama mereka, kalau tidak suka dengan kucing, ataupun kalau kucing itu mengganggu, bukan begitu caranya. Kucing juga makhluk,” katanya mengulang emosinya.

Dewi pun mengadopsi beberapa kucing uang sempat dimasukkan karung dan akan dibuang di sungai.

“Karena kucingnya banyak yang terluka saya bawa dia ke dokter. Kalau yang patah tulang saya bawa ke akupuntur,” katanya.

Dewi mengatakan bahkan dia sempat mengadopsi kucing yang dua kaki belakangnya patah dan ketika berjalan dua kaki itu digeret.

“Saya tidak habis pikir, kok ada manusia yang melihat kucing sudah seperti itu dan nekat ingin membunuh,” katanya.

Salah satu kucing yang dirawat Dewi.
Salah satu kucing yang dirawat Dewi.

Dewi akhirnya mencari info komunitas pecinta kucing. Namun tidak ada timbal balik dari komunitas tersebut. Karena perhatian yang besar tersebut, Dewi akhirnya dipertemukan dengan pecinta kucing lain dari Semarang.

“Alhamdulillah dia bersedia menerima kucing-kucing itu. Bahkan ribuan kucing yang dia pelihara. Namun sebelum dikirim ke sana, kucing-kucing tersebut saya rawat dulu di rumah,” katanya.

Saat ini di rumah Dewi masih merawat lima kucing hasil buruan di pasar Krapyak.