Semarang,Mediajateng.net – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menarik perhatian semua orang. Terkhus tentang kepribadian yang jarang diperlihatkan di forum-forum resmi. Dari kepribadian yang jauh dari sebutan gengsi, lahir peristiwa-peristiwa unik. Sisi manusiawinya ditangkap Agus Becak dan ditulis menjadi sebuah buku berjudul “Gubernur Jelata.”

Dibuku setebal 228 halaman yang diterbitkan Galangpress Yogyakarta itu, memuat pengalaman-pengalaman menarik Ganjar saat bertemu langsung dengan masyarakat. Hal-hal ‘gila’ yang tidak lazim dilakukan seorang gubernur, itu Seperti saat Ganjar mengunjungi pengungsi bencana banjir dengan tiba-tiba nggandul truk gas elpiji menuju lokasi. Bukan di kabin.

“Waktu itu karena jalurnya tidak memungkinkan dilewati mobil biasa. Termasuk mobil dinas gubernur,” ujar pria bernama asli Agus Sunandar saat merilis Gubernur Jelata di komplek Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, kemarin.

Ada lagi cerita Ganjar mampir kencing di rumah warga. Saat itu warga yang punya rumah tak sadar jika yang datang ialah Gubernur Jateng. Lalu ada lagi, cerita Ganjar yang rela berbasah-basahan di tengah guyuran hujan untuk membantu mendorong mobil rombongan wartawan yang terperosok di lubang, itu sebagian cerita yang terekam di buku ini.

Cerita lainnya, bagaimana Gubernur harus rela diusir petugas parkir sebab tidak tahu jika ia adalah Gubernur. Sebab saat itu ia mengendarai Kijang Innova. Ganjar waktu itu mengalah parkir di tempat jauh. Padahal parkiran itu disediakan untuknya. “Hal-hal sepele ini yang tidak didapatkan pada sosok pemimpin-pemimpin di negeri ini. Hal ini juga luput dari sorotan media,” kata jebolan Institus Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Penulis mengaku butuh waktu hampir enam bulan untuk mengumpulkan data. Cara observasinya pun unik. Ia harus berkomunikasi intensif dengan orang-orang di sekitar Ganjar, termasuk dengan Ganjar sendiri. Termasuk menyamar jadi wartawan demi ikut roadshow Ganjar ke daerah-daerah di Jateng. Ikut wawancara bersama para wartawan, mengikuti kemanapun Ganjar pergi dan bertemu siapa pun. “Saya kepingin memotret beberapa hal soal Ganjar dari dekat,” katanya.

Menurutnya, dari hasil setiap mengikuti kegiatan Ganjar, sebagai seorang Gubernur atau pemimpin, sama sekali tak ada jarak dengan rakyatnya. “Tak ada sekat mana rakyat, mana pemimpin. Kadang orang bingung, Pak Ganjar yang mana ya?” tuturnya.

Secara keseluruhan, proses pembuatan buku ini menghabiskan waktu hampir setahun. Observasi dimulai awal tahun 2016 hingga pertengahan tahun. Kemudian pendalaman butuh waktu sekitar dua bulan berikutnya. “Sebenarnya prosesnya cepat, tapi ketika buku ini hampir selesai, ternyata banyak cerita lain yang sangat sayang kalau dilewatkan, karena banyak cerita lucu. Jadi ada revisi dua sampai tiga kali,” bebernya.

Agus menilai, sisi kegilaan Ganjar sebagai gubernur, bisa menjadi inspirasi. Khususnya di tengah era yang tidak menentu, rakyat butuh pemimpin yang ‘gila’. Karena hanya pemimpin yang ‘gila’, yang akan dicatat oleh sejarah. Sosok pemimpin seperti ini, belum tentu akan muncul lagi dalam waktu yang lama.

“Spirit kebudayaan dan menjaga perdamaian ini yang ada pada sosok Mas Ganjar, dengan segudang cerita nyleneh yang justru mampu menginspirasi banyak orang,” katanya.

Ia berharap, bukunya tak hanya dibaca kalangan intelektual saja, juga rakyat jelata. Termasuk para calon pemimpin. “Ini agar bisa mencontoh dan meneladani apa yang dilakukan Mas Ganjar,” katanya.

Sementara itu, Ganjar mengaku geli ketika membaca draf Gubernur Jelata. Dia terkejut, ada orang yang memperhatikan hal-hal sederhana dalam kesehariannya. Dia menyimpulkan bahwa gubernur tidak perlu terlalu diagung-agungkan. Sebab pemimpin daerah adalah manusia biasa. Biasa marah, tersenyum, dlosoran bersama rakyat. “Semua itu diceritakan buku ini apa adanya. Saya suka buku ini karena bukan hanya muja-muji. Semua apa adanya,” ungkapnya.

Mantan DPR RI ini menilai, buku ini justru menunjukan kekurangan atas dirinya. “Pasti ada yang senang, pasti ada yang tidak. Tapi dari buku ini bisa melihat dari sisi manusia seorang Ganjar. Biasa saja, nggak luar biasa,” ujarnya.

Ganjar juga bercerita, bahwa sudah ada dua buku yang menmbicarakan tentang dirinya. Yang akan segera terbit, karya berupa novel yang disusun oleh seorang penulis cukup ternama. “Sebentar lagi sudah hampir jadi, berupa novel. Dia bercerita dan riset betul sejak saya kecil sampai sekarang. Tapi nampaknya masih menunggu beberapa minggu lagi, tunggu saja,” kata Ganjar.

Launcing buku yang difasilitasi oleh Komunitas Lima Gunung (KLG) tersebut, dikemas dengan melibatkan para seniman, budayawan, penyair, sastrawan, dan warga setempat, di sebuah situs prasati canggal yang ada di tengah rerimbunan hutan Gunung Wukir.

Pada orasi budayanya, Presiden KLG, Sutanto sengaja memilih Candi Gunung Wukir untuk peluncuran buku “Gubernur Jelata”. Hal ini agar masyarakat mengetahui sejarah Gunung Wukir sebagai candi leluhur dari Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

“Ganjar saya kenal sebagai Gubernur yang paling cocok dengan cita-cita kerakyatan dan kebudayaan. Saya kenal sudah sejak lama dan saya berharap Ganjar bisa memimpin Jateng menuju kesejahteraan,” ujar budayawan yang getol menolak bantuan pemerintah untuk kegiatan seni dan budaya. (MJ-058)

Comments are closed.