TEMANGGUNG, Mediajateng.net – Memasuki bulan Agustus, mayoritas petani di kawasan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai menikmati panen komoditas tanaman tembakau. Tanaman andalan petani minim pengairan ini, kembali menjadi andalan pendapatan bagi petani.

Musim panen yang muncul, sayangnya mendapat permasalahan terkait ketersediaan bahan pengering. Dimana, petani justru mengalami sejumlah kendala dalam melakukan proses pengeringan tanaman tembakau tersebut. Salah satunya adalah ketersediaan gula pasir yang selama ini menjadi bahan baku dalam proses pembuatan tembakau kering.

“Kenyataannya harga gula pasir , saat ini, justru mengalami kenaikan harga cukup tinggi. Selain ketersediaannya yang mulai langka alias berkurang. Tidak sedikit yang pula pedagang yang memilih untuk tidak sembarang menjual. Untuk satu karung gula pasir seberat 50 kilogram, petani harus membeli dengan harga Rp. 500.000,- dari sebelumnya yang berkisar di harga Rp. 300.000,- “ aku Asih, warga Pringsewu Ngadirejo Temanggung, saat ditemui di rumahnya, Selasa (20/8)

Ketersediaan gula pasir menjadi kebutuhan utama bagi petani dalam melakukan proses pengeringan daun tembakau itu sendiri. Daun tembakau hasil petikan setelah terkumpul kemudian direbus dan direndam bersama air dan gula sebelum akhirnya melalui proses pengeringan di bawah sinar matahari.

“Selama proses ini, kami sudah menghabiskan hampir 3 karung gula pasir. Kebutuhan yang sangat tinggi ini tidak sebanding untuk mendapatkannya. Banyak pedagang besar yang mulai ketakutan menjual karena beberapa kali razia pengawasan juga marak dilakukan oleh pemerintah setempat,” tambah Miswari

Bergelut dengan tanaman tembakau seperti terbelit dalam lingkaran yang sulit terlepas. Untuk memulainya, membutuhkan modal yang tidak sedikit, mulai dari membeli keranjang – keranjang daun pisang untuk menyimpan hasil olahan tembakau kering, pengolahan daun hasil petikan, hingga proses pengeringan. Belum lagi ditambah dengan kondisi musim kemarau yang minim ketersediaan air, hingga membuat daun tembakau tidak berkembang secara maksimal.

“Semua itu dilakukan untuk membayar hutang, berbeda sekali ketika petani menanam cabai. Keuntungan benar – benar dinikmati sendiri,” tutupnya.edo/mj