Karya Film POP Bisa Menjadi Angka Kredit Guru

Banjarnegara, mediajateng.net – Film dokumenter untuk pembelajaran karya guru-guru sasaran Program Organisasi Penggerak (POP) yang digelar Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) di Kabupaten Banjarnegara dapat dijadikan angka kredit guru untuk kenaikan pangkat asal memenuhi syarat.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang PTK Dindikpora Kabupaten Banjarnegara Sujadi, Rabu (15/12/2021) dalam Pelatihan Daring Penyusunan Perangkat Pembelajaran dengan Media Audiovisual.

Syaratnya, kata Sujadi, karya film harus memiliki durasi 15 menit hingga 30 menit. Juga, dibuat laporan tertulisnya.

“Kalau durasinya 15 menit menjadi karya seni sederhana dengan nilai angka kredit 2, kalau 30 menit nilai angka kreditnya 4 karena dianggap karya seni kompleks” jelas Sujadi.

Bahkan, tambahnya, dari karya film tersebut bisa memiliki angka kredit lagi jika diubah menjadi artikel jurnal, karya tulis eksperimen hingga best practice.

“Syaratnya para guru mau menulis. Karena memang bukti fisik yang dikumpulkan kepada tim penilai selain fisik film pada DVD, juga ada laporan tertulisnya” papar Sujadi.

Ketua Umum YSMI Heni Purwono menyambut baik hal tersebut, karena para guru sasaran selama tiga bulan terakhir dilatih dapat memiliki angka kredit untuk kenaikan pangkat.

“Dari pelatihan selama tiga bulan ini mereka juga akan mendapat sertifikat untuk dinilai angka kreditnya. Memang itu bukan hal yang utama, namun bagi guru sangat membantu kelancaran kenaikan pangkat, utamanya bagi guru PNS” jelas Heni.

Namun yang terpenting, tambah Heni, para guru kini memiliki kemampuan teknis yang tinggi untuk membuat film pembelajaran.

Kemampuan tersebut juga dapat dipakai untuk banyak hal di sekolah seperti mendokumentasikan kegiatan sekolah yang selama ini kebanyakan hanya laporan tertulis dan foto-foto, membuat profil sekolah, dapat pula untuk membuat profil siswa berprestasi. Semuanya berbasis audiovisual.

Salah satu peserta guru sasaran dari SMPN 1 Punggelan Romelah mengaku senang dengan peluang tersebut.

Menurutnya jerih payah mengikuti kegiatan POP terbayar dengan karya film yang dibuat, apa lagi bisa dijadikan angka kredit.

“Ya memang kami harus menyesuaikan produk film kami agar memenuhi syarat menjadi angka kredit, namun ini sesuatu yang sangat membahagiakan. Karena perjuangan kita siang malam membuat film ternyata juga bisa mendukung kenaikan jenjang karir kita ke depannya” ujar Romelah. (MJ/50)