SEMARANG, Mediajateng.net – Auriga Indarto (19) warga Perumahan Srondol Asri Banyumanik, Semarang menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh tiga orang di Jl Pahlawan, Rabu dinihari (26/10). Akibat pengeroyokan tersebut, korban mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya seperti mata, dada, dan tangan.

Saat melapor ke petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang menyatakan, pengeroyokan tersebut berawal ketika lewat di Jl Pahlawan dia dipanggil sekumpulan remaja yang sedang nonkrong di Jl Pahlawan, tepatnya di depan Polda Jateng. Dia yang saat itu bersama seorang teman wanitanya kemudian mendatangi  lokasi.

“Belum sempat ngomong, tiba-tiba saya dipukuli dan diinjak-injak,” ungkap dia usai  melapor ke petugas SPKT Polrestabes Semarang,” katanya.

Sebenarnya, menurut dia, kedatangan ke sekumpulan remaja tersebut ingin mengklarifikasi kenapa dipanggil karena tidak mengenal.

“Saya hanya ingin mengklarifikasi saja, karena saya tidak kenal mereka. Dari informasi teman saya, nama dua orang yang mengeroyok saya bernama Dimas, Alvinto dan satunya lagi saya tidak tahu,” ujarnya.

Informasi lain yang diperoleh di Polrestabes Semarang, keributan tersebut diduga akibat perseteruan dua klub mobil. Korban Auriga sendiri diduga korban salah sasaran.

Sebab, setelah kejadian beberapa orang yang mengeroyok korban juga berkelahi dengan kelompok lain. Ketiga orang yang mengeroyok Auriga bahkan sampai masuk rumah sakit karena dipukul dengan tongkat baseball.

“Saya juga tidak tahu dan tidak kenal dengan kelompok yang bertengkar dengan orang yang mengeroyok saya,” ucapnya.

Terpisah Kapolrestabes Semarang Kombes Abiyoso Seno Aji menegaskan bahwa dirinya belum mendapat laporan tentang penganiayaan yang dilakukan oleh sekelmpok club mobil tersebut

“Belum masuk laporanya, tapi akan saya tindak lanjuti masalah penganiayaan itu, ini bukan soal club mobil atau apa, tapi ini menyangkut tindak kriminalitas,” tegasnya.

Abi menambahkan jika keberadaan club mobil itu dianggap meresahkan dan menganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat, pihaknya tidak segan-segan menindaknya.

“Emang sepanjang jalan pahlwan milik nenek moyangnya, seenaknya memarkir mobil,” pungkasnya (MJ-303)