SEMARANG, mediajateng.net, – Penyelenggara Pemilu harus bekerja keras melakukan sosialisasi demi suksesnya pesta demokrasi. Hal ini menjadi penting karena banyak masyarakat yang belum faham mengenai tata cara pencoblosan dan mekanisme lainnya dalam pemilu 2019.

Di Kota Semarang misalnya, masih ditemui banyak masyarakat pemilih tidak faham karena terlalu banyak surat suara yang akan dicoblos pada tanggal 17 April 2019 nanti.

“Masih belum begitu paham, cara nyoblos dan katanya ada warna yang berbeda pada surat suara,” kata Tatang (37) warga Dinar Mas, Kecamatan Tembalang, Semarang, Kamis (21/2/).

Banyak surat suara dan peserta Pemilu menjadikan masyarakat pemilih kewalahan pada saat akan menggunakan hak pilihnya nanti.

“Yang dicoblos banyak sekali, ada kertas suara dari Pilpres, DPD, DPR, DPRD Provinsi dan kabupaten/kota. Malah jadi bingung saat akan mencoblos,” kata dia.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang, Henry Cassandra Goeltom mengungkapkan, menjelang dua bulanan pelaksanaan Pemilu 2019, diakuinya masih banyak masyarakat kurang paham mekanise pemilu.

“Kami temukan banyak sekali masyarakat yang kurang memahami mekanisme pemilu ini,” tegas pria yang akrab disapa Nanda Gultom.

Ironisnya, banyak juga mahasiswa yang tidak memahami bagaimana pemilu yang akan digelar pada 17 April 2019 mendatang. “Kebanyakan mereka belum menyadari pentingnya menyalurkan suara mereka untuk mensukseskan pemilu,” ungkapnya.

Bahkan, pihaknya menemukan fakta, sebagian besar masyarakat tidak tahu ada berapa surat suara nanti yang akan mereka coblos. Kebanyakan dari mereka hanya tahu calon presiden yang bersaing di pemilu, sedangkan para wakil rakyat dan wakil daerahnya tidak mereka kenali.

Sehingga, saat ini KPU Kota Semarang terus berupaya melakukan sosialisasi Pileg dan Pilpres 2017. Salah satunya, dengan cara menerjunkan relawan demokrasi.

“KPU Kota Semarang juga melalui relawan demokrasi sudah masuk ke basis masyarakat. Misalnya ke ibu-ibu Dharma Wanita, juga ke penyandang disabilitas, kelompok-kelompok marjinal, ke komunitas, dan kelompok-kelompok keagamaan,” bebernya.(ot/mj)