Semarang – mediajateng.net

Animo masyarakat untuk datang ke kampung tematik khususnya Kampung Pelangi Semarang menjadi euphoria tersendiri. Namun pemerintah kota Semarang diharapkan jangan berhenti sampai disitu saja.Menurut sosiolog antropologi dari Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Tri Marhaeni Pudji Astuti, pemerintah harus mampu ciptakan “living tourism” bersama masyarakat. Entah itu dalam bentuk menciptakan kegiatan atraksi maupun dalam hal kulinernya.

“Jangan sampai Kampung Pelangi Semarang hanya menarik untuk berfoto, dilihat hanya karena rumahnya dicat pelangi. Lalu pulang” demikian penegasannya dalam diskusi Prime Topic, mengangkat tema “Menggairahkan Kampoeng Tematik”, Senin ( 24/7) di Hotel Semesta Semarang.

Dalam pandangan konsep living tourism, sosilog antropologi ini juga berharap ada koneksi antara kampung satu dengan kampung lainnya. Koneksi yang dimaksudkan dimulai dari masyarakat yang ada di Kampung Pelangi. Biarkan mereka yang merasa memilki kampung itu.

Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar menyebut sampai saat ini sudah ada 32 kampung tematik di wilayah kota Semarang. Sesuai tujuan semula, kampung tematik dibuat untuk mendongkrak wisata kota Semarang. Khusus untuk Kampung Pelangi, pihaknya masih terus berupaya menghidupkan agar terknoneksi dengan keberadaan pedagang bunga di sekitar wilayah tersebut.

“Ada dana pembinaan kampung tematik sebesar 200 juta rupiah. Kami akan pikirkan sebuah kegiatan merangkai bunga agar menjadi kegiatan yang lebih menarik bagi masyarakat untuk berkunjung.” kata Samsul

Menutup diskusi Menggairahkan Kampoeng Tematik, Hanik Khoiru Shalikah, dari Komisi B DPRD Kota Semarang, meminta adanya penyempurnaan terus menerus di setiap kampung tematik.
“Kampung tematik baru setahun berjalan, kami terima berbagai masukan untuk menyempurnakan.” tutup Hanik (MJ-202)