SEMARANG, Mediajateng.net –
Asyik tidak harus modernt dan kebarat-baratan. Kreatifitas yang ditinggalkan nenek moyangpun mampu menjadikan waktu bermain terasa asyik dan lebih menantang.

Hal itulah yang ditawarkan dalam Pasar Karetan di Radja Pendapa Camp, Desa Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Sejumlah karya cipta berbentuk mainan tradisional yang banyak dijual setiap ada keramaian dijual bebas diarea pameran yang digagas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah.

GenPI, mewujudkan ide kreatifnya dengan membuat Kota Semarang memiliki destinasi wisata baru. Ide tersebut berupa sebuah pasar yang diberi nama Karetan. Pasar ini dikemas dengan cara yang sangat unik dan kekinian. Khas anak-anak muda yang selalu berpikir beda, mencari sudut pandang yang asyik, kuliner yang khas, langka, dan sensasional. Terdapat juga 1001 titik selfie yang membuat para pengunjung langsung berswafoto ria.

Mei Kristiani Ketua Panitia Pasar Karetan, menjelaskan, pasar dikonsep menyajikan suasana khas pedesaan. Dari kuliner, dolanan bocah atau mainan bocah sampai seni tradisi khas pedesaan. Namun, dikolaborasi dengan dekorasi lifestyle kekinian serba go green atau ramah lingkungan.

“Pasar yang berlokasi di tepi hutan karet milik PTPN ini cukup mudah untuk diakses dan hanya membutuhkan 45 menit perjalanan dari pusat Kota Semarang,” ungkapnya.

“Kami ingin menciptakan atraksi baru, destinasi baru dengan nuansa tempo dulu dalam sebuah pasar. Kami lakukan setiap Minggu pagi, dan selalu diposting di media sosial,” tambahnya.

Pasar ini resmi dibuka pada minggu lalu yang berlokasi di Radja Pendapa Camp, Desa Segrumung, Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Ribuan warga dari Semarang, Kendal dan sekitarnya, berbondong-bondong menuju pasar yang terbilang unik tersebut.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Masdiana Safitri, Bupati Kendal Mirna Annisa dan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuty.

“Ini luar biasa, di tengah hutan karet ada atraksi nyata orang jualan, berinteraksi, ada kuliner khas, bisa belajar, masyarakat disini juga terlibat. Ini akan meningkatkan potensi ekonomi warga,” kata Mirna Annisa usai berkeliling di pasar karetan.

Mirna ingin, Radja Pendapa Camp Boja yang termasuk daerah pinggiran berbatasan dengan Kota Semarang, masih bisa dilirik oleh para wisatawan. Pasar Karetan menurutnya, sangat pas digelar untuk menunjukan suasana pedesaan yang dikemas dengan para nitizen guna mengenalkan lebih luas.

Sementara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuty menyampaikan, kolaborasi masyarakat sekitar dengan anak muda jaman serba digital menciptakan atraksi nuansa back to nature. Ada alam, budaya, dan buatan menjadi satu utuh atraksi.

“Kemenpar sangat mendukung karena ini daya tarik, ini bagian dari pemasaran kami. Kalau dilihat marketnya ini cocok untuk nusantara dan ASEAN yang direct dari solo dan Jogja. Bahkan wisman Singapura pasti akan terkagum, yang biasa disuguhi gedung tinggi, kini ada suasana back to nature yang benar-benar hidup aktifitasnya,” katanya.

Esthy melihat, partisipasi masyarakat lokal ada kuliner tradisional, membatik, membuat payung hias, mendekor, sampai anak-anak diikutkan permainan tradisional akan memberikan pengalaman berbeda saat berkunjung kesini.

Pemilik Radja Pendapa Camp, Don Kardono menambahkan, back to nature membawa para pengunjung layaknya menyatu dengan alam. Sebelum pengunjung menginjakan kaki di lahan sekitar enam hektar ini, area parkir kendaraan ada di sebuah lapangan yang berjarak sekitar 500 meter dari Pasar Karetan. Pengunjung difasilitasi kendaraan khas wisata pedesaan odong-odong untuk penjemputan, lalu masuk area gratis.

“Rupiah, dollar, poundsterling disini tak laku. Ada money changer untuk menukar uang dengan koin kayu khusus pembayaran mulai senilai Rp.2.500, 5.000, dan 10.000, koin ini untuk transaksi pembelian Pasar Karetan,” terangnya.