UNGARAN, Mediajateng.net – Tidak ada niatan lain ketika Daryanto (42) menyediakan buku, kecuali agar penumpang nyaman dan betah di angkotnya. Namun setelah berjalan enam bulan, dia bertekat akan terus menambah persediaan buku. Alasannya?

Pukul 09.00 wib Daryanto belum juga tiba di tempat biasa mangkal, sebelum pertigaan PLN dan Toko Ramai di jalan Gatot Subroto, Ungaran. Padahal sudah puluhan angkot sliwar-sliwer mengangkut penumpang.

“Pak Dar persiapannya lama, mas,” kata, Kenthos, salah seorang supir yang tengah mencuci angkotnya, baru-baru ini.

“Dia menyiapkan buku, air minum kemasan, tempat sampah serta beberapa hal yang menjadi fasilitas di angkotnya,” katanya.

Ya. Hanya di angkot milik Daryanto lah belasan buku disediakan. Tak lama kemudian, mobil berwarna kuning berpelat nomor polisi H 1202 FC meluncur dari arah selatan. Dan mobil yang disebut Puslit tersebut segera parkir di dekat halte bus kota.

“Saat ini Puskot atau perpustakaan angkot milik saya baru menyediakan 17 buku,” kata Daryanto sambil menunjukkan koleksi bukunya.

Daryanto mengaku telah enam bulan buku tersebut dia sediakan. Bukan karena takut persaingan dengan angkutan lain, tapi semata agar penumpang betah dan nyaman di angkotnya.

“Bukan karena takut bersaing dengan angkot atau angkutan online, tapi agar penumpang betah dan nyaman di angkot ini,” katanya.

Buku dan minuman yang disediakan secara gratis.

Daryanto mengaku resah dengan angkot atau penumpang yang grusa-grusu. Tidak menikmati ketika di jalanan dan kebut-kebutan. Maka dia memutar otak bagaimana caranya agar penumpang tidak buru-buru turun dan sopir tidak ngebut di jalanan.

“Bagi saya angkot bukan sekadar jalan mencari uang, namun bagaimana memberi kenyamanan. Sopir harus nyaman, penumpang harus nyaman. Mulanya saya menyediakan minum gratis, tapi ternyata tidak cukup, akhirnya saya tambah buku,” katanya.

Kalau saya hanya mengejar uang, lanjut dia, secara hitung-hitungan merugi karena menyediakan minuman gratis. Dia juga tidak memberi tanda khusus pada angkotnya agar menjadi tanda khusus sehingga menarik penumpang, meski menyediakan banyak fasilitas.

“Maaf, bukan karena pamer, kalau saya hanya mengejar uang, saya akan pamerkan di badan mobil tentang semua fasilitas, buku, air minum, wifi, TV sampai tempat sampah. Bahkan kalau ada penumpang yang tidak punya uang atau tidak ingin bayar, saya persilakan, tidak saya persoalkan. Ada orang naik angkot ku ini saja, saya sudah senang,” katanya.

Daryanto mengaku persediaan bukunya tersebut menyesuaikan penumpang. Karena penumpang kebanyakan adalah ibu-ibu dan anak sekolah. Maka buku yang disediakan adalah buku menu masakan sampai komik.

“Peminatnya lumayan, terbukti dari 17 buku yang tersedia, sudah hilang lima. Berarti kan diminati,” kelakarnya.

Selama enam bulan tersebut, Daryanto mengambil simpulan bahwa minat baca masyarakat Kabupaten Semarang masih sangat rendah.

“Saya mengamati penumpang, meski saya telah menyediakan buku, tapi masih banyak yang masuk langsung duduk kemudian memegang handphone,” katanya.

Dia tidak tahu, apakah hal tersebut dikarenakan rendah ya minat baca atau karena persediaan bukunya yang kurang menarik.

“Justru dari situ saya semakin semangat untuk memperbanyak koleksi buku di angkot ini,” katanya.

Meski tampilan luarnya tidak beda dengan angkot lain, namun fasilitas di dalam angkot Daryanto istimewa.

Untuk koleksi buku tersebut Daryanto mengaku beli dari saku sendiri. Selain itu dia mengatakan tidak berharap pada bantuan pemerintah.

“Meski belinya dengan cara mengangsur, saya cukup senang. Sehari angsurannya Rp 10 ribu,” jelasnya.

Meski tidak mengajukan bantuan, namun dirinya tidak menutup kesempatan jika ada pegiat literasi ingin menyumbang atau menitipkan buku di angkotnya.

“Kalau ada yang memberi atau nitip buku malah saya suka. Iso mlaku bareng (bisa jalan bersama) agar banyak orang yang membaca,” katanya.

Supriyati, salah satu penumpang mengaku paling suka dengan buku menu masakan. Pasalnya dia adalah seorang ibu rumah tangga.

“Lumayan bisa tahu banyak jenis masakan. Suami saya suka kalau saya masak. Kalau untuk anak belum bisa membedakan makanan enak atau tidak, karena masih kecil,” tandasnya.

Selain itu dia juga tidak masalah membaca buku di angkot. Karena dia sudah terbiasa membaca buku di rumah.

“Tidak pusing, dan tetap bisa fokus membaca. Kadang saya malah sampai kebablasan turunnya,” jelasnya.

Impian

Setelah Menjelaskan Puskot selama enam bulan, secara sederhana Daryanto menyimpulkan tingkat membaca kabupaten Semarang cukup rendah. Dia berniat jika koleksinya sudah banyak, buku-buku akan dia sumbangkan ke sekolah dasar.

“Agar terbiasa membaca dari kecil, tidak seperti saya, membaca sedikit saja sudah pusing, sudah ngantuk,” kata Daryanto.

Suami Purwani tersebut mengaku bahwa dirinya hanya lulusan sekolah dasar. Dia berasal dari Salatiga, tepatnya Jalan benoyo Karangpete, RT 9 RW 6, Kutowinangun lor kecamatan Tingkir.

“IQ saya memang rendah mas, juga pendidikan yang saya tempuh. Tapi sedih juga jika melihat penumpang yang langsung pegang handphone sementara ada buku yang tersedia,” katanya.

Jangankan membaca, lanjut dia, saya berbicara saja tidak fasih. Alasannya, pengetahuan dan wawasannya masih sempit.

“Karena saya tidak pandai, maka saya ingin selalu berbuat baik. Maaf, pada penumpang pertama saya jarang meminta uang pembayaran. Kalau pun membayar saya gunakan untuk beli minuman bagi penumpang,” katanya.

Deretan penumpang angkot Daryanto.

Daryanto mengaku jenjang pendidikan yang dia tempuh hanya sampai tingkat sekolah dasar. Karena berasal dari keluarga pas-pasan.

Setelah lulus SD, dia berprofesi sebagai penjual koran jalanan. Pada tahun 1998 dia nekat menjadi kernet. Profesi itu dia jalani selama tujuh tahun, sebelum akhirnya memutuskan menjadi sopir pribadi dan beralih sebagai sopir angkot.

“Saya cuma tidak ingin orang-orang menjadi malas dan bodoh. Ibaratnya, biar saya sajalah yang seperti ini, yang lain jangan. Menyediakan buku salah satu usahaku untuk itu,” katanya.

Ada satu hal, katanya, yang ingin dilakukan namun belum tersampaikan yakni menggratiskan penumpang setiap hari Jumat dari pukul 06.00 sampai pukul 09.00.

“Tapi ini masih rembugan dengan istri. Karena saya jarang pulang ke rumah, jadi rembugan ya agak susah. Tapi saya harus mendapat restu dari istri jika menjalankan Jumat gratis tersebut karena juga menyangkut uang yang saya berikan ke dia,” katanya.

Dia mengaku sehari-hari dia mampu mengantongi uang sebesar Rp 50 ribu. Itu sudah potong sewa dan bensin. Dia menganggap bahwa hari Jumat sangat tepat memperbanyak perbuatan baik.

“Uang sewa mobil Rp60 ribu, iuran harian Rp3 ribu ditambah bensin dan bayar hutang, sisanya sekitar Rp50 ribu,” katanya.

Dia tidak merisaukan penghasilannya yang pas-pasan, karena anak yang tertua sudah bekerja dan bisa membantu keluarga.

“Punya dua anak perempuan, yang pertama kerja yang terakhir kelas 2 SMK,,” katanya.

Di mata rekan kerja.

Daryanto adalah sopir angkot penuh ide kreatif dan seorang kawan yang baik. Setidaknya demikian penilaian yang diberikan Kenthos, salah satu dari 100 sopir angkot jurusan Ungaran – Karangjati.

Kenthos, demikian panggilan yang dia inginkan, cukup menaruh segan dengan Daryanto. Meski secara usia lebih tua, dia memanggil Daryanto dengan sebutan Pak Dar.

“Pak Dar adalah sopir paling kreatif. Selalu ada ide yang muncul dari dia,” kata Kenthos.

Mulai dari soal fasilitas, lanjut Kenthos, hanya angkot Pak Dar yang menyediakan fasilitas. Buku, air minum, TV, WiFi sampai tempat sampah ada di sana.

“Tanpa memikirkan apakah nanti rugi atau tidak. Karena biaya untuk menyediakan semua itu, bagiku dan bagi sopir lain, cukup besar,” katanya.

Rekan Daryanto terlihat membersihkan mobil angkotnya.

Meski demikian, kata Kenthos, tidak ada sopir yang menaruh iri pada Pak Dar. Bahkan perlahan sopir lain perlahan-lahan mencoba mengikuti cara yang dipakainya.

“Pak Dar justru memberi semangat pada kami agar bersama-sama membuat penumpang nyaman, membuat paguyuban ini semakin dikenal dan memberi manfaat pada sopir maupun penumpang,” katanya.

Daryanto sendiri saat ini menjadi bendahara paguyuban angkot Ungaran – Karangjati yang telah tujuh tahun mati. Kenthos mengisahkan bahwa dulu di kawasan mangkal angkot tersebut dikuasai preman, dan persaingan tidak sehat terjadi antar sopir.

“Pak Dar lah yang mendamaikan. Kemudian menata perlahan, dengan mengadakan arisan serta kegiatan-kegiatan yang menggandeng sopir dan keluarga,” katanya.

Dia hanya berharap akan semakin banyak rekannya yang mencontoh Pak Dar, karena dia yakin kekompakan sopir akan semakin solid dengan kehadiran orang sepertinya.

“Bahkan bukan hanya sopir, dia juga perhatian pada masyarakat. Buktinya dia rela menyediakan buku di angkotnya agar orang-orang suka membaca,” tandasnya.

Jalan berbuat baik memang sangat banyak, bergantung kita mau melakukan atau diam. Berbuat baik atau jahat adalah pilihan, dan kita sangat bisa untuk menentukan.