Isteri Meninggal, Seorang Kakek di Godong Tak Lagi Bisa Dapat Bansos

GROBOGAN, mediajateng.net – Pandemi covid-19 menyebabkan roda ekonomi masyarakat Indonesia terhambat. Tidak sedikit warga yang harus dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan, ada yang kehilangan mata pencahariannya.

Hal ini berimbas pada banyaknya warga yang mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk bertahan hidup. Seperti seorang kakek bernama Yakob, asal Desa Dorolegi, Kecamatan Godong.

Seratus hari yang lalu, sang istri meninggal dunia. Saat ini, ia hidup sendiri di rumahnya dan tidak dapat bekerja. Dirinya berharap, ia dapat bantuan sosial dari pemerintah agar dapat menopang hidupnya.

“Awal pagebluk corona ini, saya masih sama istri. Sekarang sendiri sebab istri meninggal 100 hari kurang sepekan ini,” aku kakek yang baru menduda saat ditemui, di rumah perangkat desa.

Masuk daftar warga kurang mampu, bersama sejumlah tetangga membuat Yakob menjadi orang yang berhak mendapatkan bantuan dari kementrian sosial. Selang beberapa saat, ia sempat tenang saat mendengar kabar cairnya Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Saya sangat berharap. Bantuan ini bisa untuk beri makan beberapa bulan, jika bisa sampai corona hilang. Dapat kabar, saya langsung mencoba mengurus ke bank. Tetapi, malah dapat kabar mengejutkan yang bikin saya bingung,” akunya saat ditemui di rumah Barokah, perangkat desa setempat, Sabtu (16/5/2020).

Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan apa yang dialaminya dengan meletup-letup. Kecewa, sebab BPNT itu tak bisa dicairkan lantaran sang istri telah meninggal dunia.

Yakob, salah satu warga Dorolegi yang tak dapat mencairkan BPNT lagi karena sang istri telah meninggal. Untuk meringankan bebannya, Dompet Dhuafa memberikan sembako untuknya. Foto : ist

“Bantuan ini harusnya untuk warga miskin, KTP atau nama. Yang didata itu warga apa nama. Jika kepala keluarga, kenapa saat istri saya meninggal bantuan tidak bisa dicairkan. Padahal saya datang bawa KK dan surat. Tapi tetap tidak bisa. Perangkat desa berani menjaminkan diri terkait kebenaran jika istri saya meninggal tapi tetap tidak boleh,” aku Yakob, saat menerima donasi sembako dari Dompet Dhuafa.

Sama-Sama Bingung

Hal yang sama dialami Habibi, yang juga warga Dorolegi. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan ini bingung sebab bantuan yang fisalurkan lewat rekening BRI itu tak dapat dicairkan lagi.

“Saya dengar keluarga saya dapat. Terus saya mau ambil. Tapi di tengah jalan dapat kabar, yang istrinya jadi TKW tidak bisa diambil. Saya ya langsung pulang,” katanya.

Habibi menjelaskan, istrinya bernama Suci telah kerja di Hongkong lebih dari 7 bulan karena telah membayar cicilan biaya berangkat TKW.

Permasalahan Yakob dan Habibi bukan satu-satunya. Sedikitnya tiga warga Desa Dorolegi, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan tidak bisa menerima bantuan senilai Rp 600 ribu perbulan.

“Tiga orang. Satu istrinya meninggal, satu istrinya merantau di Jakarta dan satu istrinya jadi TKW. Kita coba komunikasikan dengan bank. Tapi tetap ditolak,” kata Barokah.

Pendataan dari Kemensos memang dilakukan dengan menggunakan nama perempuan sebagai nama penerima sekaligus pemilik nomer rekening di Bank BRI.

“Perangkat sempat berusaha membantu dengan memberi keterangan. Jika keterangan dan bukti yang diberikan benar, tetapi tetap tidak bisa dicairkan. Dan akhirnya ada tambahan sembako dari Dompet Dhuafa,” tambahnya.

Penolakan pencairan bantuan BPNT mengancam 3 KK warganya tidak bisa mendapatkan bantuan lain dari pemerintah.

“Penerima BST tidak boleh terima BPNT dan penerima BPNT tidak boleh terima BST. Masalahnya warga kami tidak bisa ambil bantuan karena lagi ada kendala terkait istrinya. Maka mereka terancam tidak bisa dapat bantuan apapun kecuali dari dermawan dan lembaga swasta,” tambahnya.

Dompet Dhuafa Peduli

Kristiyono, relawan Dompet Dhuafa menjelaskan, pemberian bantuan diberikan pada 30 warga miskin di Kabupaten Grobogan.

“Bersama PWI Kabupaten Grobogan kita bagikan langsung ke rumah rumah warga. Di Dorolegi, bantuan langsung menyasar ke keluarga yang gagal menerima bantuan sosial,” katanya.

Dengan bantuan sembako, diharapkan warga bisa mendapat jaminan hidup intuk beberapa hari kedepan sembari melawan penyebaran Corona.

Sementara itu Zulkifli Z Fahmi, sekertaris PWI Grobogan mengapresiasi bantuan Dompet Dhuafa. Di mana, bantuan yang langsung menyasar warga diharapkan meningkatkan imunitas dan daya bertahan hidup warga Grobogan.

“Jika sudah terdata tapi tidak bisa menerima lantaran istrinya meninggal kan sangat kasihan. Semoga pemerintah ada solusi terkait permasalahan regulasi perbangkan yang jadi kendala bagi penyaluran bantuan,” katanya.

Kabid Pemberdayaan Sosial dan Fakir Miskin Dinas Sosial Grobogan Kurniawan mengatakan, bantuan dari kementrian sosial ada dua program, yakni Bantuan Sosial Tunai (BTS) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Keduanya memiliki mekanisme yang berbeda.

Di mana, BTS proses pencairannya bisa diwakilkan keluarga dalam satu KK dengan bukti KTP dan KK. Sementara BPNT tidak bisa diwakilkan.

“BPNT karena ada aturan perbankan, di mana harus peserta yang bisa mengambil bantuan itu. Kami tidak bisa masuk di aturan itu. Kalau BST bisa diwakilkan dengan menunjukan KK dan KTP,” katanya. (Ag-Mj)