SEMARANG,Mediajateng.net-Pertemuan Ilmiah Tahunan Daerah (PITD) Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) yang digelar pada hari Minggu (31/7/2016) menyoroti kebutuhan pasien gagal ginjal saat menjalani therapy. Hingga kini salah satu cara termurah memang dengan haemodialisa atau dikenal dengan cuci darah.
Menurut Imam Hadi Yuwono, salah satu panitia yang membidangi ilmiah, dalam pertemuan tahunan tersebut, menghadirkan tiga pembicara yang kesemuanya termasuk pakar nefrolog (ahli ginjal). Masing-masing adalah dr Lestaringsih SpPd, dr Shofa Chasani, dan dr Arwedi.
“Harapan kami, masukan dari para pakar itu bisa menambah pengetahuan para perawat dengan kompetensi perawatan gagal ginjal, guna mendukung ilmu keperawatan yang sudah dikuasai,” kata Imam.
Dalam forum ilmiah itu, ada tiga bahasan pokok yang mendapat perhatian serius. Pertama  mengenai pasien kritis. Dimana penanganan pasien kritis pada pasien dialisis memang berbeda dengan pasien lainnya.
“Dari situ diharapkan penanganan pasien kritis tidak berdampak pada pasien lain. Karena biasanya unit haemodialisa para pasiennya ditempatkan berjajar sehingga mereka bisa saling sharing. Nah, ketika ada yang kritis, penanganan yang diberikan tentu akan dilihat pasien lain. Disitu kami eksplore dan bahas,” kata Imam.
Sedangkan pokok bahasan kedua yang juga mendapatkan perhatian serius adalah mengenai keamanan pasien. Pemakaian peralatan mesin haemodialisa sudah memiliki program. Salah satu tugas perawat dialisis adalah memberi edukasi sehingga ketika perawat memberikan treatment, mereka sadar bahwa hal itu untuk keamanan pasien.
Imam menyebutkan bahwa untuk di rumah sakit yang memiliki unit haemodialisa, keamanan pasien bukan saja tergantung peralatan, namun juga perawatnya.
Kemudian pokok bahasan ketiga adalah mengenai support mental terhadap pasien gagal ginjal. Imam menjelaskan, thema ini dibicarakan karena para pasien gagal ginjal sering merasa tak bermanfaat. Dengan support mental yang diberikan, diharapkan mereka memiliki motivasi survive yang tinggi.
“Dari pengalaman yang ada, para pasien yang mentalnya drop, memang sulit untuk bertahan lama. Jadi tugas perawat dialisis salah satunya memberi support mental,” kata Imam.
Dalam pertemuan ilmiah itu, dilakukan pula pemilihan kepengurusan Ikatan Perawat Dialisis Indonesia periode 2016-2021. Terpilih sebagai ketua yang baru adalah Suparji dari RS Roemani. Ketua   ini bertugas menyusun kepengurusan lima tahun ke depan.(MJ.01)

Comments are closed.