Blora-mediajateng.net-
Ketika dunia dan bangsa kebingungan terkait sisa bekas sedotan. Bahkan sejumlah cafe berkelas internasional melarang penggunaan sedotan, di Blora, Jawa Tengah sedotan menjadi sumber pemasukan yang luar biasa.

Tidak jadi sampah yang menggunung di tempat sampah, namun ditangan kreatif warga Blora, sedotan mampu memiliki nilai jual tinggi.

Bagi sebagian orang, sedotan sebagai alat untuk menghisap minuman. Banyak orang membuang sedotan tersebut setelah selesai dipakainya. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang menggunakan sedotan bekas untuk sesuatu yang bermanfaat. Seperti yang dilakukan Sri Aini (47) warga RT 4 RW 2 Kelurahan Karangjati, Kecamatan/Kabupaten Blora. Sri memanfaatkan sedotan bekas tersebut sebagai bahan utama untuk membuat tikar lipat.

Saat disambangi di rumahnya, Sri tengah menyusun sedotan berwarna-warni itu untuk dibentuk menjadi tikar. Bersama dengan karyawannya, ia mengubah barang bekas menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis.

Sri menjelaskan untuk membuat tikar lipat berbahan sedotan plastik ini sangat mudah. Pertama, tiga buah sedotan disambung dan didapati berukuran 50 centimeter. Kemudian, sedotan tersebut dianyam vertikal bersama sedotan lainnya yang sudah berposisi horizontal. Hal ini juga sama dilakukan pada saat membuat anyaman bambu.

Ide membuat tikar berbahan sedotan bekas ini dimulai dari bentuk keprihatinannya melihat banyaknya sedotan terbuang di sekitar tempat pemancingan ikan yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Ia kemudian memunguti satu per satu sedotan tersebut.

“Langsung saja saya ambil satu-satu daripada terbuang cuma-cuma. Kemudian, saya mencoba untuk membuat kerajinan tikar ini dari sedotan-sedotan itu,” jelas Sri.

Waktu yang dipergunakan untuk membuat satu tikar berbahan sedotan ini yaitu tujuh hari. Selama sepekan itulah, Sri membuat tikar dengan panjang tiga meter. Untuk memasarkannya sendiri, Sri memanfaatkan aplikasi jual beli yang mudah ditemukan di media sosial. Harganya memang cukup mahal. Namun, mahalnya harga tikar tersebut seimbang dengan kualitas dari tikar yang dibuatnya tersebut.

“Satu tikar dengan panjang tiga meter ini dijual di media sosial dengan harga 300 ribu rupiah,” tambah Sri.

Tidak hanya tikar saja yang dapat dibuat dari bahan sedotan bekas ini. Beraneka ragam kerajinan berbahan plastik selain sedotan juga dapat dibuatnya.

“Ada tas dan tikar yang saya buat dari bahan dasar bungkus kopi yang sudah tidak terpakai. Kemudian, ada juga tempat tisu dan taplak meja. Semuanya itu saya buat dengan bahan-bahan bekas,” tuturnya.

Sri mengaku sudah tiga tahun menekuni usaha ini. Meski baru berusia muda, namun kerajinan tangannya ini sudah dikenal masyarakat. Baik dari masyarakat dari dalam maupun luar Blora.

“Kalau untuk kerajinan seperti tas, tempat tisu, taplak meja dan tikar berbahan bungkus kopi ini sudah tiga tahun berjalan. Kalau untuk tikar dari sedotan ini, baru berjalan lima bulan,” pungkas Sri. (Ag-MJ)