GROBOGAN, Mediajateng.net – Peternak sapi tradisional di Kabupaten Grobogan mengeluhkan turunnya harga jual sapi pasca gemparnya daging import. Bahkan sebagian dari mereka terancam gulung tikar.
Para peternak tradisional harus sabar menanti kebijakan Pemerintah agar usahanya kian lancar. Pasalnya ditengah gecarnya daging sapi import, harga sapi hidup turun drastis, dari yang semula mencapai Rp18 juta, kini harus bersusah payah agar terjual Rp12 juta. “Sebelumnya juga turun tapi harga mampu Rp 15 juta. Sejak masuknya daging import kembali ramai, harga jual sapi kian turun,” kata salah satu peternak sapi Kabupaten Grobogan, Sutarno.
Senada dengan Sutarno, selain mengeluhkan terjunnya harga sapi, Sulasih menuturkan mahalnya harga perawatan. “Mulai dari pakan, vitamin sampai tenaga. Saat ini, harga jual sangat tidak sebanding dengan perawatan,” kata dia.
Menyikapi hal tersebut, Sutarno dan Sulasih pun lebih memilih untuk menunda penjualan. “Menunggu normal saja lah. Dari pada rugi terlalu banyak,” ungkap dia sambil menuturkan bahwa menggembala liar sekarang menjadi alteratif perawatan.
Sementara itu, beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Kabupaten Grobogan, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sujatmoko mengemukakan bahwa pada tahun 2016 ini Pemerintah tengah menyusun strategi penurunan harga daging sapi dengan pelepasan daging import di pasar. “Harapannya ke depan Pemerintah akan mengakomodasi sapi-sapi dari peternak lokal sebagai salah satu kebijakan operasi pasar,” ungkap dia. (MJ-047)

Comments are closed.