Gusdurian – USM Gelar Ngaji Kebudayaan Bersama Alissa Wahid

Semarang, Mediajateng.net, – Universitas Semarang (USM) bekerjasama dengan Gusdurian Semarang menggelar haul ke-10 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Senin malam, (17/2). Acara ini merupakan bagian dari roadshow ke 8 dari 10 lokasi dari beberapa daerah di Indonesia.

Penggagas acara ini adalah kalangan muda NU bersama 24 komunitas lintas agama dan ormas di Kota Semarang dengan menghadirkan Alissa Wahid putri sulung Gus Dur sekaligus memberi tausiyah  yang bertajuk Ngaji Kebudayaan.

Rektor USM Andy Kridasusila SE MM dalam sambutannya, berterima kasih kepada panitia yang telah memilih USM sebagai tuan rumah acara haul Gus Dur kesepuluh. Pihaknya berharap acara ini berimbas perilaku dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

“Gusdur adalah bapak pluralisme Indonesia, semoga generasi muda dimudahkan,ditempa, agar bermanfaat bagi masyarakat bangsa dan negara,”ungkapnya.

Kegiatan haul ini dihadiri oleh mahasiswa, masyarakat luas dan tokoh lintas agama di Kota Semarang berkumpul menjadi satu dalam bingkai kebersamaan dan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan gelar seni rebana dan tarian sufi.

Sebelum taushiyah, dilakukan pembacaan tahlil, kalimah tayyibah dan doa yang dipimpin Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail, setelah itu diisi tembang Jawa oleh KH. Anasom selaku Ketua PCNU Kota Semarang.

Suasana semakin hangat dengan dilantunkannya lagu lir-ilir sampai pada penampilan sastra pertunjukan yang di isi oleh Lukni An Nairi tentang makna dan kecintaan Gus Dur terhadap bangsa Indonesia ini.

Menurut Alissa Wahid, dalam tausyiahnya bahwa haul Gus Dur adalah hadiah terindah, lebih dari gelar dari nasional karena cara seperti ini, doa yang dipanjatkan menjadi bekal Gus Dur diakhirat nanti.

“Melalui haul ini, Gus Dur masih saja membuatkan ruang berkumpul bersama karena itu menjadi terindah bagi kami. Haul Gus Dur, bukan mengkultuskan gusdur, tapi momen belajar dari apa yang beliau lakukan sepanjang hidupnya, siapa tau, kita bisa membawa di kehidupan sehari-hari, kita semua bisa belajar dari Gus Dur,” ungkapnya.

Menurutnya, Gus Dur itu sering memberi orang lain, Gus Dur sering menjaga amanah untuk rakyat, umat dan untuk kemaslahatan masyarakat. Gus Dur membela Tionghoa, Gus Dur menyampaikan di Indonesia martabat kemanusiaan bagian dari kemerdekaan warganya, sepak terjangnya multidimensi.

“Keadilan kemerdekan dari setiap manusia, dari penindasan-penindasan, pasti dibela Gus Dur, bukan minoritas-mayoritas tetapi keadilan. Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi,”tegas Alissa Wahid sekaligus Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian.

Alissa mengajak orang Indonesia, beragama salah satunya adalah hubbul Wathan minal iman, merawat negara sebagai ibadah, dengan keadilan kemanusiaan, cara menegakkan Islam rahmatan Lil alamin.

Dalam konteks, sosial, agama dan politik, sebagai refleksi, haul Gusdur kesepuluh di Semarang diharapkan kedepan Semarang menjadi kota yang adil makmur dan dari Semarang bisa menata Indonesia. (ot/mj)