DEMAK, Mediajateng.net – Menyambut Tahun Baru Hijriyah Ponpes Giri Kesumo, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Demak menggelar ritual Grebeg Sura, Minggu (1/9/2019).
Sebanyak empat gunungan hasil bumi berupa sayur dan buah serta tumpeng diarak keliling desa dalam prosesi Grebeg Sura tersebut.
Usai diarak yang diakhiri dengan pembacaan doa oleh KH Muhammad Munif Zuhri (Gus Munif), ribuan warga dari berbagai daerah yang sudah menunggu sejak pagi di halaman masjid Ageng Girikusumo, langsung berebut empat gunungan itu.
Meski terik matahari terasa menyengat kulit, namun tak menyurutkan semangat warga mengikuti prosesi Grebeg Sura hingga selesai dan memperebutkannya.
Bahkan di antara warga ada yang nekat menaiki gunungan, untuk mendapatkan aneka sayur , buah dan tumpeng yang diyakini dapat membawa berkah.
“Alhamdulillah, ini dapat kelapa dan pare. Ini semua barang berkah yang memiliki banyak manfaat. Nanti kelapanya untuk campuran masakan dan airnya untuk obat. Saya percaya Allah SWT akan mengabulkan,” kata Siti warga Pekalongan.
Prosesi Grebeg Sura yang rutin digelar setiap 1 Muharram atau tahun baru Hijriah, diikuti ribuan santri dan warga berbagai daerah.
Kegiatan diawali dengan kirab jubah milik Mbah Muhammad Hadi, Mbah Zaenuri dan Mbah Muhammad Zuhri menuju area permakaman ketiganya. Usai ziarah, iringan kirab kembali ke masjid Giri Kesumo untuk prosesi pembacaan doa oleh Gus Munif.
Kirab diikuti pasukan pembawa bendera merah putih, para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, ribuan warga serta 40 santri dan ustadz-ustadzah Ponpes Giri Kesumo yang membawa kendi berisi air dari sumur berkah, yakni sumur yang dulunya dibuat oleh Mbah Muhammad Hadi pada tahun 1886.
“Jumlah 40 kendi tanah, disesuaikan dengan ajaran Mbah Hadi. Bahwa kesempurnaan ilmu mengaji di Giri Kesumo itu 40 hari tirakat. Apabila santri, utamanya santri thariqah sudah tirakat selama 40 hari, maka sudah dikatakan lulus oleh beliau (Mbah Hadi). Dan hingga sekarang model tersebut masih dilestarikan,” kata Ketua Panitia Grebeg Sura Giri Kesumo, Edi Yusuf .

Sedangkan tumpengan dan gunungan hasil bumi yang diarak, sambung Edi, sebagai ikhtiar rasa syukur dan meminta keberkahan kepada Allah SWT, serta berharap kesejahteraan keselamatan bagi masyarakat sekitar, bangsa dan negara.

“Kirab ini sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan rejeki selama ini,” tutupnya.