DEMAK, Mediajateng.net – Kabupaten Demak merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Tengah dan juga penyangga pangan nasional. Namun, ternyata ribuan warga Demak masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Wakil Bupati Demak, Joko Sutanto menyatakan bahwa angka kemiskinan di Kabupaten Demak masih cukup tinggi bahkan mencapai angka 13 persen.

Berbagai cara dilakukan Pemerintah Kabupaten Demak untuk mengentaskan dan menurunkan angka kemiskinan di Demak, salah satunya dengan menggandeng Bazda Demak.

Melalui momentum Ramadhan, Wabup Joko, mengajak kepada para pejabat Demak maupun warga yang hidup berkecukupan agar secara sukarela ikut mengulurkan tangan , membantu saudara kita yang kurang mampu.

“Kita ketuk hati temen-temen Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan warga lainnya, agar membiasakan diri peduli, bahwa masih ada bagian kecil warga kita yang kurang mampu. Mari kita rawat sikap toleransi kepada sesama,” kata Joko, seusai menyalurkan bantuan dari Bazda Demak kepada pasangan suami istri, Kasmijan (70) dan Suyati (60), warga Desa Gajah RT 07 RW 03, Kecamatan Gajah, Senin (21/5/2018) sore.

“Kakek Kasmijan ini satu dari 13 persen itu (angka kemiskinan Demak). Ini
salah satu contoh, warga kurang beruntung yang perlu kita bantu, ” lanjutnya.

Sementara itu, Kasmijan dan istrinya, Suyati, tidak bisa menyembunyikan air mata bahagia saat menerima bantuan tersebut. Kakek dan nenek itu merasa bersyukur mendapatkan bantuan yang nantinya bisa digunakan untuk biaya hidup mereka berdua.

“Alhamdulillah, matursuwun Pak Wakil Bupati. Uangnya bisa untuk nutup kebutuhan,” kata Kasmijan sembari mengusap air matanya.

Ya, pasangan Kasmijan dan Suyati adalah salah satu potret kemiskinan di Kota Wali ini.

Bahkan karena kemiskinannya, kakek dan nenek itu , terpaksa menempati rumah semi permanen diatas tanah irigasi, karena tidak memiliki rumah sendiri.

” Sudah tiga tahun tinggal disini. Dulunya ikut keponakan. Tapi sekarang rumahnya dikontrakan, ya terpaksa hidup disini, ” kata Kamijan,

Di rumah berukuran 4 x 2,5 meter yang tak layak ditempati itulah, kedua manula itu menjalani kehidupan sehari harinya.

Kesan kumuh langsung bisa kita lihat, manakala masuk ke rumah yang langsung berdekatan dengan sungai itu.

Tak ada kursi ataupun sofa di ruang tamu. Begitupun kondisi ruang tidur , menyatu dengan dapur yang lantai plesternya sudah mulai mengelupas.

Mereka menjalani masa tua hanya hidup berdua saja, sementara keempat anaknya sudah berkeluarga dan mempunyai kehidupan sendiri sendiri, ada yang di Pati, Solo dan Kalimantan.

Hanya si bungsulah yang sesekali menjenguk kedua orang tuanya, karena kebetulan tinggal di Desa Harjowinangun, Kecamatan Dempet, Demak, yang lebih dekat dibandingkan saudara saudaranya.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari – harinya, Kakek Kasmijan dan istrinya banyak mengandalkan dari hasil berjualan ketela pohon.

Itupun atas belas kasihan warga yang menitipkan ketela pohon untuk dijualnya.

Satu sak berisi 40 kilogram ketela pohon titipan tetangga tersebut, mereka bungkusi menjadi 40 plastik ukuran satu kilogram yang dijualnya Rp. 4.000 untuk setiap plastiknya.

Dengan berjalan kaki, ketela pohon itu ditawarkan oleh Kakek Kamijan, kepada para tetangga.

Terkadang, Diapun menjualnya hingga ke desa-desa tetangga, masuk kampung keluar kampung agar dagangannya itu cepat habis sehingga dapur bisa tetap mengepul.

“Satu sak kami setor Rp 125.000 – Rp. 150.000. Sehari terkadang dapat untung Rp 15.000 – Rp. 20.000. Kadang dua hari atau tiga hari baru habis. Kalau belum habis semua, kami belum berani beli beras, ” ucapnya lirih.

Selain kepada Kasmijan, bantuan bagi warga kurang mampu juga diberikan oleh Bupati Demak M Natsir, kepada Mbah Kapsah , seorang janda miskin yang tinggal di Desa Kedungwaru Lor RT 04 RW 01, Kecamatan Karanganyar.