SEMARANG, Mediajateng.net – Cuaca ekstrim pada tahun 2016 ini berdampak buruk bagi tembakau lokal. Memasuki musim panen akhir Agustus ini, petani tembakau dibayangi ketakutan tidak lakunya varietas tanamnya tersebut.
Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mengungkap bahwa pada tahun ini setidaknya terjadi penurunan kuantitas yang mencapai 40 persen, ditambah terus menurunnya kualitas tembakau. Ketua APTI Jateng, Wisnu Brata, khawatir keadaan tersebut bakal memperpuruk petani tembakau setelah diserang isu kenaikan harga rokok kemarin.
Pada kesempatannya audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Wisnu Brata mengharap bantuan agar Pemerintah mengkomunikasikan keadaan tersebut dengan pemegang industri rokok. “Semoga Pak Gubernur bisa memberi pengertian pada pelaku industri rokok untuk membeli tembakau hasil panen petani, bagaimana pun hasilnya,” kata dia, Kamis (25/8).
Kondisi serupa, lanjut Wisnu, pernah dialami petani pada 2010 silam. Bahkan saat itu menurut Wisnu kondisinya lebih parah. “Tapi syukur pelaku industri mau mengambil seluruh hasil panen dari petani,” kata dia.
Jika pembelian tembakau dari petani sedikit, menurut Wisnu akan semakin memperlancar impor tembakau. “Harapan kami impor bisa diturunkan. Saat ini impor tembakau sudah mencapai 150 ribu ton atau 55 persen dari kebutuhan nasional. Padahal dalam RUU pertembakauan sudah ada pasal, jika penggunaan tembakau impor mencapai 20 persen maka cukai dinaikkan sampai tiga kali lipat,” kat dia.
Tentu kondisi impor tembakau yang kian besar mengkhawatirkan banyak pihak. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengungkapkan, jika kran impor tembakau dibuka terlalu lebar, maka tinggal menunggu kematian petani tembakau lokal. “Kalau memang pemerintah ingin melindungi petani tembakau lokal, gampang, stop impor tembakau,” tegas Ganjar. Untuk itu, pihaknya bakal memfasilitasi pertemuan antara pelaku industri rokok dengan petani tembakau, Selasa (30/8) mendatang.
Selain itu, Ganjar juga berharap agar pemanfaatan tembakau ditingkatkan. “Pemerintah harus terus melakukan riset terhadap tembakau. Kalau rokok kan terserah orangnya. Kami hanya mengatur peredaran dan menyediakan tempat merokok, tapi jangan sampai mematikan tembakau Indonesia,” tandas dia. (MJ-058)

2 KOMENTAR

Comments are closed.