Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berfoto di depan ikon Festival Jerami #2 yakni Rondo Cangek. Foto: MJ/Agung.

GROBOGAN –  Siang yang panas tidak membuat langkah kaki warga masyarakat Kecamatan Gabus untuk bertandang ke Desa Wisata Banjarejo, Rabu (25/9) kemarin. Sejak pagi mereka sudah sampai di pintu masuk Kantor Desa Banjarejo. Di desa ini, pada 25 September hingga 6 Oktober 2019 mendatang tengah mengadakan perhelatan besar.

Perhelatan tersebut berwujud Festival Jerami Banjarejo. Festival ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya dilakukan pada 2018 silam. Yang istimewa dalam pelaksanaan kegiatan ini yakni pada saat pembukaan yang secara resmi dilakukan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Setelah lama menantikan kedatangan orang nomor satu di Jateng itu, masyarakat akhirnya bisa melihat langsung Ganjar Pranowo yang datang didampingi Bupati Grobogan Sri Sumarni dan rombongannya. Masyarakat antusias dengan kedatangan suami dari Siti Atikoh ini.

Dalam sambutannya, Ganjar Pranowo mengapresiasi pelaksanaan Festival Jerami yang digagas Kepala Desa Banjarejo, Ahmad Taufik bersama seluruh masyarakat desa tersebut. Bahkan, dirinya memberikan empat jempol sebagai bentuk apresiasi kegiatan ini.

Ganjar tak menyangka, masyarakat Desa Banjarejo ini mempunyai ide yang kreatif untuk memanfaatkan jerami yang biasanya langsung dibiarkan begitu saja pascapanen. Dengan inovasi yang dimiliki masyarakat, Ganjar dapat melihat langsung hasil patung jerami yang dibuat masyarakat.

“Kalau kita kreatif dan inovatif, maka kita tidak akan kekurangan akal. Musim kemarau, udaranya panas sekali, tanahnya juga kering, terus apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan potensi. Ternyata saya lihat, ide dari desa ini saya acungkan jempol empat. Kenapa saya bilang begitu, karena jerami yang kemarin dibuang, ternyata bisa dipergunakan untuk karya seni yang kreatif. Ini merupakan kesenian yang pertama di dunia yang pernah saya lihat,” kata Ganjar.

Tak hanya itu, Ganjar juga mengapresiasi Ahmad Taufik yang menggagas festival ini. Menurut dia, sistem kopyokan atau undian diberlakukan di sini untuk setiap dusun dan instansi. Dari sistem undi ini, setiap dusun atau instansi yang ikut menjadi peserta harus membuat patung yang sesuai dengan hasil undian itu.

“Mereka punya rasa seni yang tinggi. Bisa berimajinasi sehingga menghasilkan karya seni yang seperti ini. Tentu saja ini merupakan salah satu atraksi wisata yang menarik dari desa ini. Di samping itu, Desa Banjarejo ini merupakan desa yang banyak ditemukan benda-benda purbakala seperti fosil dan diperkirakan di dalamnya masih ada banyak,” jelas Ganjar, usai meninjau stan peserta Festival Jerami.

Menurut Ganjar, pihaknya bersama-sama saling melengkapi, jadi wisatawan yang ke sini tidak hanya melihat benda purbakala saja tetapi juga melihat atraksi lain, seperti karya seni yang menarik ini. Yakni berbentuk Festival Jerami tersebut.

“Saya berharap masyarakt di sini bisa menuliskan dalam bahasa Inggris minimal, atau bahsa Jepang, atau bahasa Arab dan bahasa asing lainnya agar dapat dikenal ke seluruh dunia,” papar Ganjar. (Ag-MJ)