Fasum Difabel, Pemkot Semarang Merasa Dilematis

SEMARANG, Mediajateng.net – Fasilitas umum bagi penyandang difabel di Kota Semarang jauh dari kelayakan. Pemerintah Kota Semarang menyadari hal tersebut, namun realitanya ada dilematika tersendiri.
Noviana Dibyasari, pemerhati layanan umum dan kaum difabel yang kerap memotret keseharian fasilitas layanan umum kota Semarang ini, menjumpai berdirinya patok di pedestrian. Selain itu, akses menuju shelter sangat curam dan berbahaya karena halte terlalu tinggi dan sempit. “Akses memasuki BRT juga tak ada fasilitas bagi pengguna kursi roda, ibu hamil dan lansia. Kursi penumpang juga harus ditata kembali sesuai peruntukan untuk difabel dan non difabel. Jangan cukup puas dari hasil penelitian Pertuni, karena justru akses lainnya malah tak diperhatikan,” ujarnya, kemarin.‬
‪Sementara, Kepala Bidang Perparkiran Dinas Perhunungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) kota Semarang Tri Wibowo menyatakan, keberadaan trotoar yang sengaja dipasang patok besi diperuntukan untuk menghalangi para sepeda motor yang memarkir liar di pedestarian.‬ “Kebijakan tersebut sebagai langkah mensterilisasi parkir liar yang menggunakan trotoar dan pedestarian karena mengganggu pejalan kaki dan bukan peruntukannya, tujuan utama kita awalnya itu dulu,” katanya.‬
Kebijakan tersebut diakuinya juga dilematis, karena terganggunya akses bagi para difabel yang melalui blind tile karena terhalang patok besi dan rantai. “Dilema memang, namun dibeberapa trotoar protokol sudah cukup lebar bagi difabel pengguna kursi roda,” tambahnya.‬
Terkait tangga shelter dan halte BRT, pihaknya juga mengalamai keterbatasan lahan. Kebanyakan lahan shelter BRT berkuruan tak kurang dari dua meter lantaran tak ada lahan yang memadai. “Kita lihat saja, adakah lahan pinggir jalan yang lebih dari dua meter. Kita inginnya shelter BRT juga seperti di Jakarta. Tapi tak mungkin kita memakai semua lahan bahu jalan untuk shelter karena juga akan mengorbankan akses jalan dan trotoar sebagai public space,” katanya.‬
Dikatakannya pula jika tangga yang curam dan sempit karena keterbatasan lahan juga yang memaksa akhirnya dibuat seperti itu. (069)

Comments are closed.