Cilacap – mediajateng.net

Satuan Reserse Narkoba Polres Cilacap Berhasil mengungkap peredaran obat terlarang dengan menangkap 5 orang yang diduga pemilik dan pengedar.kelima pelaku yang berhasil ditangkap adalah LF, 23 tahun warga jalan Mangga Desa Maos Lor Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap , EYS, 19 tahun warga Desa Pasir Lor Karanglewas Banyumas, GJ, 20 tahun warga jalan Rancah Desa Pagubugan Kulon Binangun Cilacap, JP, 33 tahun warga Desa Kalisube Banyumas dan NS, 21 tahun warga jalan Kakap Desa Adipala Cilacap.

Dari ungkap kasus tersebut petugas berhasil menyita ratusa butir obat daftar G yang berbagai jenis diantarany merk dagang Merlopam, Clonazepam dan Tramadol serta Aprazolam.

Daei keterangan Kasat Narkoba Polres Cilacap AKP Sumanto mengatakan, Pengungkapan kasus tersbut berawal dari informasi masyarakat yang menyebutkan adanya peredaran obat penenang yang dijual secara bebas di wilayah Maos, Kesugihan dan Kroya dimana pembelinya adalah kalangan pelajar dan remaja bahkan ada juga orang dewasa.

Berdasarkan informasi tersebut akhirnya petugas berhasil menangkap pelaku LF dan EYS di Jalan Kemojing ikut Desa Maos Lor Kecamatan Maos Cilacap pada hari Rabu, 10 Mei 2017.

“Setelah dilakukan pengembangan petugas berhasil menangkap pelaku lain yaitu NS di SPBU Karangkandri Kecamatan Kesugihan Cilacap pada hari Kamis, 18 Mei 2017 dan mengembang kepada pelaku lainya yaitu GJ dan JP yang merupakan bandar atau pemasok obat terlarang tersebut,” ungkap Sumanto kamis (25/5)

Sejumlah 417 butir obat daftar G di sita. Lebih lanjut Kasat Narkoba menjelaskan bahwa dari pengakuan pelaku bahwa obat peneng tersebut di peroleh dengan cara membeli lewat Online .

“Obat yang berhasil disita merupakan obat yang digunakan untuk penghilang rasa sakit atau digunakan juga untuk pasien yang menderita gangguan jiwa namun harus dengan pengawasan dan resep dokter” tambah kasat Narkoba.

Namun oleh pelaku obat tersbut dijual dengan bebas dan tanpa ada aturan atau dosis yang dianjurkan dan mereka berdalih bahwa obat tersebut bisa menjadikan pemakainya ngefly atau halusinasi. Kemungkinan besar pelaku sudah banyak menjual obat terlarang tersebut sehingga berpotensi merusak generasi muda.

Pelaku mengaku sudah menjual barang tersebut dengan harga 20 ribu setiap butirnya.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatnya kelima pelaku dijerat dengan pasal 62 jo pasal 60 ayat (2) dan (3) UU RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan primer pasal 196 jo pasal 98 ayat (2) dan (3) subsider pasal 198 jo pasal 108 UU RI No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan karena terbukti dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu diancam dengan hukuman penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 Milyar (MJ-303) .