Semarang-mediajateng.net

Paska kejadian kecelakaan Bus Rapid Transit ( BRT ) yang terjadi dua kali dalam sepekan setelah launching pada akhir bulan Maret 2017 ini Plt Dinas Perhubungan kota Ssmarang Tri Wibowo mengatakan akan melakukan evaluasi.

Evalauasi yang dilakukan menurutnya adalah masalah Rute Undip Tembalang – Unnes Sekaran yang merupakan rute / trayek bus koridor VI , terutama masalah kondisi jalan yang dilalui

” dalam satu hingga dua bulan ini mas akan kami lakukan evaluasi menyeluruh dari rute, kondisi jalan yang dilalui oleh koridor ini, untuk pengalihan rute sedang kami pikirkan sembari menunggu evaluasi,” ungkap Tri wibowo saat dihubungi melalui ponselnya

Saat kembali ditanyakan untuk rencana perubahan rute koridor VI , Tri Wibowo kembali menekankan evaluasi hingga bulan Mei. Dari pantauan mediajateng saat menyusuri rute koridor VI ini setidaknya ada dua lokasi yang rawan laka lantas diantaranya jalan sesudah kampus Unika dan jalan setelah jembatan besi Dewi Sartika.

Sementara itu Direktur PT Minas Makmur Jaya Tutuk Kurniawan Selaku Operator Bus Rapid Transit (BRT) Koridor V dan Koridor VI yang armadanya mengalami dua kali kecelakaan beruntun dalam sepekan sebanyak dua kali meminta maaf kepada pengguna jasa transportasi. Saat dihubungi Tutuk Kurniawan yang sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Semarang ini akan tetap mempertahankan koridor VI.

” apapun yang teejasi saya tidak akan mundur dari koridor VI. Nanti saya kumpulkan semu sopir dan saya undang dinas terkait untuk duduk satu meja, mencari solusi yang terbaik. Untuk Sopir pihaknya udah menyeleksi dengan ketat perayaratanya termasuk harus memiliki SIM BII umum,” ungkapnya.

Lebih lanjut Tutuk membeberkan, khusus koridor VI diakuinya memang penuh problematika, mulai dari proses lelang hingga awal pemuncuran. Sebelumnya dalam lelang yang diikuti oleh 24 perusahaan, 23 Perusahaan mundur lantaran rute yang dilalui oleh Koridor VI ini bisa dibilang “horor” sehingga akhirnya perusahaanya yang ditunjuk Pemkot untuk menjalankan Koridor VI.

” saat serah terima bus ini semua sudah saya masukan ke bengkel guna di service namun perlu mas ketahui bahwa kilometer 8 bus yang saya terima menunjukan angka 24 hingga 26 ribu,” bebernya.

Perlu diketahui bahwa BRT koridor V dan VI ini masih dalam proses penanganan petugas Unit Tipikor Polrestabes Semarang. Laporan dari Agung Nurul Falaq sebagai kepala Trans Semarang ini mulai dari pencuian Ban serep hinga merambat ke ranah tindak pidana korupsi. Dari penyidikan diketahui bahwa 8 BRT yang harusnya digunakan di koridor V dan VI oleh BLU UPTD terminal mangkang sudah dioperasikan atau disewakan di koridor III dan IV dan sudah menghasilkan provit sebanyak Rp.200 Juta. (MJ-303)