GENUK, Mediajateng.net – Demam Berdarah Dengue (DBD) di awal tahun 2019, menjadi salah satu berita hangat yang banyak dikabarkan sejumlah media di Indonesia.

Ancaman penyakit mematikan yang disebarkan nyamuk ‘bertubuh loreng’ putih hitam yang dikenal dengan jenis nyamuk aedes aegypti telah mengakibatkan ratusan pasien harus dirawat intensif di sejumlah rumah sakit.

Tidak saja mengancam orang saat sedang santai. Namun, ancaman juga bisa diterima saat orang sedang bekerja atau beraktifitas.
Pasalnya, enyebaran ancaman tidak saja terjadi di lingkungan tempat tinggal. Namun, saat melajani proses belajar mengajarpun seperti sekolah tidak jarang memiliki resiko terjadinya serangan nyamuk.

Pasalnya, nyamuk aedes aegypt banyak menyerang pada dua jam setelah matahari terbit atau sekitar pukul 07.00 hingga pukul 08.00 saat anak melakukan aktifitas belajar di sekolah atau pada sore hari.

“Karena nyamuk juga mungkin menyebarkan virus dengue (demam berdarah) saat siswa belajar, maka anak kita ajak membersihkan sarang nyamuk dan tempat berkembang biaknya jentik nyamuk,” kata Kyai Rodhi, Pengasuh MTs Al Quran Al Azhari, Penggaron Lor, Kecamatan Genuk, Kamis (31/1).

Seperti tandon air, vas bunga dan genangan air di botol bekas air minum berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Kemarin dan hari ini, siswa kita ajak membersihkan tandon. Dengan mau masuk ke dalam tandon anak kita ajak peduli kebersihan dan membersihkan sarang nyamuk,” katanya.

Genangan air, dibuang dengan harapan jentik yang ada bisa mati.

“Berantas sarang nyamuk bukan hanya tugas pemerintah. Tapi juga kewajiban warga bahkan sekolah dan siswa iika ingin terbebas dari jentik nyamuk,” tambahnya.

Langkah ini, juga bentuk perhatian sekolah kepada siswa dan lingkungan.

“Tidak saja memberi subsidi pendidikan Rp 1 juta bagi siswa pendaftar gelombang pertama, tapi kita juga memperhatikan asupan makan siang siswa hingga kesehatan siswa,” katanya.

Bukan keterpaksaan, ikut membersihkan lingkungan dengan memasuki tandon air menjadi kegembiraan sendiri bagi siswa. Bisa bermain dan melakukan hal positif di sela proses belajar mengajar menjadi kegembiraan tersendiri bagi mereka.

“Bisa ikut bersihkan tandon itu asyik. Bermain air sambil ikut selamatkan diri dan teman dari gifitan nyamuk,” aku M Irfan Dimas Febryansah, yang ditugasi masuk tandon.

Kegembiraan sama dirasakan Mukhibin, dengan ikut membersihkan tandon maka dirinya juga ikut terlibat menjaga kebersihan air yang digunakan untuk mensucikan diri saat akan melakukan ibadah.

“Biar bersih. Kan airnya juga buat wudhu, jika jentiknya hilang kan lebih bagus,” akunya yang membersihkan tandon bersama rekan satu kelasnya Remond Nauval.

Hingga Kamis (31/1) pasien demam berdarah terus bertambah. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRMT Wongsonegoro mencatatkan selama satu bulan, 87 pasien yang dirujuk ke rumah sakit milik Pemkot Semarang itu.

“Pasien demam berdarah bulan januari 2019 usia 0 – 12 bulan tidak ada, balita usia 1 –  5 tahun ada 12 pasien, pasien usia 6 – 18 tahun ada  55 orang dan pasien di atas 19 tahun ada 20 pasien,” kata Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro Dr Susi Herawati.

Sejumlah pasien, bahkan dirujuk dalam kondisi kesehatan sudah cukup parah. Karenanya, pihaknya harus melakukan perawatan secara intensif. “Sampai saat ini tidak ada pasien yang meninggal. Walau beberapa sempat harus dirawat secara intensif,” tambahnya.mj070