DEMAK, Mediajateng.net – Panitia Pengawas Pemililihan Kabupaten Demak, Jateng, mengajak kalangan pondok pesantren dan santri di wilayah Demak untuk menolak praktik politik uang dalam gelaran Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng tahun 2018 maupun Pemilu Legislatif (Pileg).

Hal itu diungkapkan Ketua Panwas Demak, Khoirul Saleh, dalam acara Sosialisasi Pengawas Pemilu Partisipatif di Hotel Amantis, Demak, Kamis (7/12/2017). Acara tersebut dihadiri sebanyak 70 santri dari sejumlah pondok pesantren yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Demak.

“Kita ajak para santri ini sebagai pemilih partisipatif yang nantinya sebagai garda terdepan penolak segala bentuk politik uang atau sedekah politik,” kata Khoirul.

Menurut Khoirul, dalam perkembangannya pesantren dan santri memiliki andil dan pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam hal pendidikan, sosial budaya, ekonomi dan juga politik.

“Para santri dan kiai pesantren perannya sangat nyata dalam membangun negara ini. Kita gandeng mereka untuk bersama sama memberikan pemahaman nilai nilai demokrasi,” ujarnya.

Para santri dan kiai yang juga bagian dari relawan demokrasi ini, selain garda terdepan kampanye tolak sedekah politik juga nantinya dilibatkan untuk mengkampanyekan bahaya politik identitas yang mungkin akan terjadi di Kabupaten Demak.

Menurut Khoirul, politik identitas yang mengusung isu sara ini dapat mengkotori nilai nilai demokrasi dan dapat memecah belah persatauan dan kesatuan. “Kita berharap, dengan adanya peran santri dan kiai ini, dapat menangkal adanya politik uang maupun politik identitas,” ucapnya.

Kultur Demak sebagai Kota Wali yang dikenal masyarakatnya yang religi, identik dengan pesantren, kiai dan santri. Dalam setiap kegiatan keagamaan, nantinya dapat disisipkan pendidikan politik yang santun serta nilai nilai demokrasi bermartabat demi suksesnya pesta demokrasi.

“Kaum santri di Kabupen Demak jumlahnya cukup banyak, mereka bisa memberi informasi kepada masyarakat dan komunitasnya untuk memilih wakil wakil mereka tanpa embel – embel uang,” pungkasnya. (MJ-102)