GROBOGAN, Mediajateng.net- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mendata, setiap tiga hari sekali, sebanyak satu rumah terbakar. Bahkan, per dua pecan, tiga rumah beserta perabot rumah tangga terbakar tanpa sisa akibat amukan jago merah.

Insiden kebakaran ini tidak hanya terjadi saat musim kemarau saja. Di musim hujan pun, musibah kebakaran rumah juga dapat menimpa warga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Hal tersebut dibenarkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan, Endang Sulistyoningsih.

Dari pemaparannya, Endang mengatakan, aksus kebakaran dalam setiap bulan terjadi 12 musibah. Data tersebut diambil dari kasus kebakaran sepanjang tahun 2018 lalu.

“Pada bulan Januari 2018 tercatat menjadi bulan terendah dalam kasus kebakaran. Ada satu kasus kebakaran dengan nilai kerugian material senilai Rp 5 juta rupiah,” kata Endang.

Sementara itu, lanjutnya, frekuensi jumlah kebakaran semakin meningkat. Seperti pada bulan selanjutnya, yakni Februari, terdapat tiga insiden kebakaran. Di bulan berikutnya terjadi dua kali lipat kasus kebakaran dengan kerugian yang sangat tinggi.

“Bulan Maret, kasus kebakaran naik dua kali lipat yaitu terjadi 10 kasus ebakaran dengan kerugian masing-masing Rp 60 juta dan Rp 73 juta,” ujarnya.

Pada semester pertama tahun 2018, angka kebakaran terus melonjak naik. Dimana pada bulan April dan Mei terjadi 10 dan 18 kasus kebakaran. Dalam dua bulan terakhir, total kerugian naik tajam yaitu Rp 536 juta di bulan April dan Rp 940 juta di bulan Mei.

“Di bulan Juli, terjadi kasus yang sama yang memunculkan kerugian jauh lebih tinggi yaitu Rp 1,449 miliar dari 18 kebakaran yang terjadi. Jadi, selama satu tahun, jumlah kebakaran mencapai 148 kasus atau setara pertiga hari terjadi satu kasus kebakaran dengan total kerugian mencapai Rp 11, 687 miliar,” tambah mantan Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Grobogan.

Jumlah kebakaran di tahun 2018 naik signifikan dibanding tahun 2017 yang hanya mencapai 89 kasus saja. Penyebabnya beraneka macam. Namun, mayoritas insiden kebakaran ini terjadi karena adanya konsleting listrik, bediang, puntung rokok, kompor gas, dan tungku dapur.

“Untuk kebakaran yang disebabkan karena bediang, banyak menimpa warga yang memelihara ternak dan memanfaatkan asap jerami untuk menghilangkan nyamuk dan lalat pada hewan. Tetapi karena ditinggal, maka api cepat menjalar lantas membakar kandang bahkan ada yang merambat pada rumah,” tambah Endang.

Pihaknya pun mengimbau kepada warga agar berhati-hati dalam menggunakan kompor gas atau peralatan yang dapat menimbulkan munculnya kobaran api. Tak hanya itu, penggunaan kabel listrik juga sangat diperhatikan warga.

“Khususnya dalam pemakaian kabel listrik. Kami mengimbau jangan sembarangan. Gunakan sesuai saran dari PLN dalam penggunaan kabel,” himbaunya.

*Mengundang Keprihatinan Ketua DPRD*

Meningkatnya kasus kebakaran di Kabupaten Grobogan menjadi keprihatinan Ketua DPRD Grobogan, Agus Siswanto. Menurut dia, kasus kebakaran ini perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah kabupaten. Pria asal Gubug ini berharap adanya pemberian edukasi untuk meminimalisir potensi kebakaran.

“Sangat penting jika adanya edukasi oleh dinas kepada masyarakat. Pengertian resiko bencana dapat diberikan dengan menggiatkan kelompok masyarakat dan membentuk relawan bencana hingga ke desa,” katanya.

Mengenai bediang yang kerap dimanfaatkan para peternak untuk mengusir nyamuk atau lalat demi hewan ternaknya, Agus berharap kandang dibangun terpisah dari rumah. Jika terjadi kebakaran, katanya, dapat meminimalisir kerugian yang lebih besar.

“Saya berharap, masyarakat lebih berhati-hati terhadap barang yang bisa menyebabkan kebakaran. Terutama pada saat rumah ditinggal berpergian. Di samping itu, Pemkab melalui OPD terkait terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait penyebab rawannya kebakaran,” tutup Agus. (Ag-Mj)