SEMARANG, mediajateng.net, – Motivator sekaligus dosen UKSW Salatiga, Eko Suseno Matrutty berpesan akan pentingnya produk wisata yang unik berbasis kearifan lokal dengan melibatkan warga sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi.

Hal ini disampaikan Eko Suseno saat memberikan motivasi kepada puluhan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kelurahan Mangunharjo, Tembalang, Semarang, Rabu (27/2). Menurutnya, kreativitas dan keunikan akan menjadi pembeda agar wisatawan mau berkunjung ke desa wisata.

“Pokdarwis harus lebih dulu memetakan potensi dan usaha-usaha yang menunjang kepariwisataan,” terangnya.

Keberadaan daya tarik wisata, cinderamata, kuliner hingga guide menjadi syarat mutlak menuju rintisan desa wisata. Daya tarik wisata dapat diartikan sebagai potensi keindahan alam, budaya atau kehidupan sosial masyarakat setempat.

Selain itu, perlu dipertimbangkan pula keberadaan homestay, akses transportasi, foto, keamanan hingga kebersihan toilet. Meskipun untuk homestay, Eko berharap warga tidak terburu-buru membuatnya jika memang belum menyiapkan paket-paket wisata yang komplit.

“Homestay itu kan artinya wisatawannya harus menginap. Artinya pula, paket yang dijual juga harus sehari semalam, nah selama waktu itu wisatawan mau diajak apa dan bagaimana, masak ya cuma tiduran di homestay?” sergahnya bercanda.

Ia juga mengharapkan, Pokdarwis mampu menghadirkan keunggulan komparatif dan kompetitif. Dengan demikian, mereka akan terus memunculkan produk dan jasa kreatif mengingat pertumbuhan desa wisata dewasa ini cukup menjamur.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Disbudpar Kota Semarang Indriyasari menjelaskan, saat ini di Semarang sudah ada delapan desa wisata yang disahkan dengan Surat Keputusan (SK) Walikota. Selain itu juga ada 43 Pokdarwis yang disahkan dengan SK Kadisbudpar.

Diakui, kehadiran rintisan desa wisata hadir dari keberadaan kampung-kampung tematik yang sudah tumbuh di 166 kelurahan di Kota Semarang. Dari keberadaan mereka, diharapkan tumbuh dan muncul Pokdarwis yang akan menjadi tulang punggung kelahiran desa wisata.

“Khusus untuk Mangunharjo ini, potensi lokal yang bisa dikembangkan adalah budaya batik, lumpia serta sentra UMKM pembuatan peci. Tentu akan terus kami support agar mereka juga siap lahir menjadi desa wisata,” tandasnya. (ot/mj)