SEMARANG, Mediajateng.net – Rencana pembangunan wahana wisata Trans Studio batal terealisasi. Pasalnya investor, PT Trans Ritel Property lebih memilih Yogyakarta.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan pembatalan tersebut bermula saat rencana awal pembangunan trans studio di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) mendapat penolakan dari masyarakat. ”Investornya sudah tidak mau. Pasca mendapat penolakan masyarakat terkait rencana pembangunan di TBRS, Pemkot sudah menawarkan di Marina, ketemu dengan pengusahanya. Tapi upaya tersebut sepertinya tidak cukup, mereka sepertinya mau ke arah daerah lain, ya sudah mau bagaimana lagi, kita sudah berupaya,” katanya di balaikota, Senin (19/9).

Pemkot menyadari di Semarang warganya tidak 100% mendukung adanya trans studio. Sehingga batalnya pembangunan dinilai sebagai sebuah konsekuensi. “Inilah konsekuensinya dari keputusan yang dulu pernah diambil,” kata Walikota yang akrab disapa Hendi ini.
Tapi pemkot masih berupaya menawarkan lokasi lain di Mijen dan Marina seperti disarankan sejumlah pihak. Serta siap memfasilitasi perizinan secara mudah. Sayangnya pemilik PT Trans Ritel Properti Chairul Tanjung menolak, dan akhirnya lebih memilih membangun trans studio di daerah lain.
Secara terpisah, Kabag Kerjasama Sekretariat Daerah Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur menjelaskan, nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) antara Pemkot Semarang dan PT Trans Ritel Properti ditandangani 6 Maret 2015 dan berakhir pada 5 Maret 2016.
Dikarenakan tidak ada progres, karena TBRS yang dipilih investor mendapat penolakan warga, pihak investor akhirnya membatalkan rencananya. ”Setelah satu tahun tidak ada perkembangan, maka dengan sendirinya putus. Karena MoU sifatnya masih nota kesepahaman, belum ada ikatan hukum,’’katanya. (MJ-078)

Comments are closed.