SEMARANG, Mediajateng.net, Kepala Kantor Regional 3 Otoritas Jasa Keuangan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Bambang Kiswono mengakui perkembangan jenis alternatif pembiayaan baru melalui peer to peer lending financial technology (fintech) tumbuh sedemikian pesat di wilayah Jawa Tengah.

OJK mencatat hingga bulan Februari 2018 telah tercatat adanya transaksi fintech mencapai kurang lebih mencapai angka Rp 218,8 miliar rupiah. Meski diakui mempercepat pertumbuhan inklusi keuangan secara nasional, keberadaan fintech di Jawa Tengah tetap harus mengedepankan perlindungan dan edukasi konsumen.

“Untuk membangun industri jasa keuangan yang sehat, jasa fintech tetap harus mengedepankan perlindungan terhadap konsumen dalam hal data nasabah, transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, keadilan terhadap para nasabahnya. Fintech pun wajib memberikan edukasi keuangan kepada konsumen agar paham mengenai layanan yang diberikan.Banyaknya jumlah fintech kedepan akan semakin terlibas oleh mekanisme pasar, jika memang tidah profesional” demikian tegas Bambang Kiswono, saat berdiskusi Ngopi Bareng Wartawan, di kawasan Pandananaran, kemarin.

Seperti  diketahui dari data OJK Kantor Regional 3 Jateng – DIY, jumlah pemberi pinjaman fintech di Jawa Tengah sendiri juga cukup besar mencapai 8000 orang dengan nilai dana mencapai Rp 66,6 miliar rupiah. Sementara itu jumlah peminjam sendiri ternyata juga sangat banyak mencapai 22.000 orang, dengan nilai transaksi mencapai 218,8 miliar rupiah , seperti yang disebutkan sebelumnya.

“Yang menjadi menarik adalah fintech menawarkan kemudahan administrasi kepada masyarakat dibandingkan lewat jasa keuangan konvensional. Hanya bermodal identitas kependudukan, masyarakat bisa memperoleh jumlah dana sesuai yang dibutuhkan secara cepat. ” tambah Bambang.

Hal ini juga diakui pula oleh Rini salah satu warga Sendang Kecamatan Banyumanik Semarang, mendapatkan dana segar dari layanan fintech jauh lebih mudah, daripada lewat jasa keuangan perbankan lainnya.

“Cukup KTP slip gaji dan kartu kepegawaian, lewat fintech “Rupiah Plus” , saya dapat meminjam dana sebesar 1,2 juta rupiah selama sebulan, dengan jumlah pengembalian sebesar 1,368 juta rupiah. Fintech jauh lebih gampang daripada harus meminjam lewat bank atau lewat teman maupun kerabat.”jelas Rini.

Fintech memang menawarkan kemudahan, namun Rini juga sempat mendapatkan satu pengalaman memalukan saat menggunakan layanan fintech bernama Rupiah Cash, untuk kepentingan yang sama.

“Terlambat membayar pelunasan yang sudah lewat batas jatuh tempo, meski sudah diurus, pihak manajemen fintech langsung menyebar pesan singkat ke sejumlah nomer seluler milik kerabat dan teman saya, perihal hutang tersebut.Jelas menimbulkan ketidaknyamanan.”tutup Rini