DEMAK, Mediajateng.net – Kebijakan Bupati Demak, M Natsir yang memberikan beasiswa kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Demak, menuai kecaman. Kebijakan tersebut dinilai sangat mencederai amanat rakyat.

Zayinul Fatta, Sekretaris DPC PKB Kabupaten Demak, mengatakan, pemberian bantuan beasiswa dari Pemda Demak kepada ASN tersebut mencederai rasa keadilan masyarakat, pasalnya hanya ASN yang mendapat biaya pendidikan secara cuma cuma, dengan kriteria tidak jelas.

“Mereka itu (ASN), kan kelompok mapan semua, punya gaji tetap, kemana-mana menggunakan uang negara, rakyat dong dipikirkan,” kata Gus Zayin, sapaan akrabnya, Senin (9/4/2018).

“Mosok buat ASN semua, ini sungguh ngawur dan terlalu, meskipun dengan dalih peningkatan SDM aparatur pemerintahan,” sesalnya.

Gus Zayin yang juga Tokoh Muda NU Demak, menambahkan, berdasar informasi yang dia himpun, terdapat 500 kuota beasiswa yang diperuntukan bagi ASN Demak.

Setiap orangnya mendapatkan subsidi biaya pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebesar Rp 15 juta.

“Kalau dihitung, total ada Rp 7,5 miliar uang negara yang dipakai untuk sekolah para ASN Demak. Kalau betul ini dipakai untuk membiayai sekolah ASN, di mana rasa keadilan bupati untuk rakyatnya,” tandasnya.

Menurutnya, Bupati Natsir, semestinya bisa melihat kondisi rakyatnya, selain menjadi daerah yang masuk zona merah dalam angka kemiskinan juga masih banyak angka putus sekolah dan siswa yang terpaksa harus berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi dan biaya.

Melihat kondisi itu, sudah semestinya Pemkab Demak hadir untuk membantu para siswa yang putus sekolah,
bukan malah memuliakan orang-orang yang sudah mulia (ASN).

“Saya berharap bupati bisa bebuat adil dalam memimpin rakyatnya. Kalau mimpin saja belum bisa adil , jangan harap rakyat Demak bisa hidup sejahtera,” ujarnya.

“Jangan sampai rakyat selalu menjadi korban dari setiap kebijakan yg diambil oleh bupati. Rakyat harus di muliakan, harus diberi ruang untuk meningkatkan derajat kehidupannya, ” pungkasnya.

52 KOMENTAR

Comments are closed.