GROBOGAN, Mediajateng.net – Cukup banyak yang dipersiapkan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 16 Februari 2018 mendatang. Terutama di Klenteng Hok An Bio, klenteng utama yang ada di kota Purwodadi.

Klenteng yang berada di jalan Suhada ini mulai berbenah untuk mempersiapkan momentum sakral tersebut. 

Rangkaian acara telah dipersiapkan sederhana oleh para pengurus Yayasan Tri Dharma Purwodadi. Sabtu (10/2) pagi, para pengurus bekerja bakti mengeluarkan semua patung dewa yang ada di bagian dalam klenteng (pelataran).

Kemudian, seluruh patung ini disikat lalu dicuci dengan bilasan air hingga bersih. Sekitar 20 patung ini kemudian dikeringkan sebelum akhirnya diletakkan kembali ke tempat semula.

Acara pencucian dan pembersihan patung ini merupakan tradisi yang turun temurun dilakukan klenteng tersebut untuk menyambut Imlek. Budi Wiguna, wakil ketua pengurus yayasan Tri Dharma ini mengatakan, pembersihan patung ini tidak asal dibersihkan langsung tetapi dilakukan berdasarkan kepercayaan.

“Untuk sejarahnya memang tidak bisa kami ceritakan detailnya. Tetapi menurut ceritanya, para dewa penguasa klenteng ini berdiam melalui patung tersebut. Menurut penanggalan Cina,tepatnya beberapa hari sebelum Imlek, para dewa pergi ke Khayangan untuk melaporkan semua hal yang ada di bumi kepada Sang Pencipta. Mereka akan kembali pada saat malam Imlek nanti. Karena kami percaya patung-patung ini kosong, kami lalu membersihkannya untuk menyambutnya kembali,” papar Budi saat ditemui Sabtu (10/2) di klenteng tersebut.

Selain memperkenalkan tradisi tersebut, Budi juga memperkenalkan kepengurusan Yayasan Tri Dharma yang sudah dilantik beberapa waktu lalu. dr. Djoko Susilo mendapatkan mandat menjadi ketua pengurus yayasan. Sementara Budi Wiguna mendampinginya sebagai wakil. 

“Kemudian untuk pengatur urusan rumah tangga di klenteng ini yaitu bu Ine. Pengatur urusan rumah tangga ini sering disebut dengan istilah Lo Cu,” katanya.

Ditambahkan Budi, pemilihan Lo Cu ini menganut sistem pemilihan yang dinamakan Sio Pe Han. Hanya dewa penguasa klenteng inilah yang berhak menentukan siapa yang akan menjadi Lo Cu.

“Calon Lo Cu bersembahyang di hadapan dewa sambil mengutarakan niatnya yang diakhiri dengan melempar dua buah kayu yang dinamakan pa pwe dengan dua sisinya memiliki motif warna yang berbeda,” tambah Budi.

Di klenteng ini, dua buah kayu berbentuk bulan sabit dimana bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna kuning. “Jika keduanya dilempar warnanya kuning semua, itu artinya tertawa. Jika  merah semua, itu artinya marah, dan jika kuning dan merah itu artinya Dewa setuju,” katanya. 

Dansaat ini kepengurusan pengaturan klenteng tersebut dipegang oleh Ine. Di dalam klenteng ini, berjajar patung para dewa yang berasal dari ajaran kepercayaan tri darma yakni konghucu, tao, dan budha. Meski ketiganya berbeda nama, tetapi disatukan untuk mewujudkan cinta kasih antarsesama. 

Hal itu terlihat ketika seorang umat sedang beribadat dengan membakar kertas. Tradisi itu dinamakan bakar uang emas untuk dewa. Tradisi ini dilakukan tiap tanggal tertentu untuk menghormati para dewa dan leluhur di alam surga.