DEMAK, Mediajateng.net – Dalam Upaya Penurunan Balita Stunting Dinas Kesehatan kabupaten Demak melakukan peningkatan peran perempuan dalam meningkatkan ekonomi keluarga dan kesehatan gizi anak serta penanganan permasalahan sosial.

Demikian disampaikan Asisten Sekda Demak Windu Sunardi, SH.MH saat membuka kegiatan Minum Tablet Tambah Darah (Fe) bersama dan screening anemia di Pendopo Kabupaten Demak, kemarin.

”Gerakan minum tablet tambah darah dengan sasaran anak-anak remaja putri usia 12 hingga 18 tahun Ini dilakukan untuk mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik bebas dari stunting,” jelas Windu.

Anemia, lanjutnya, merupakan salah satu penyakit yang masih sering terjadi di negara berkembang seperti di Indonesia. Wanita yang masih produktif mempunyai risiko yang lebih tinggi terkena anemia, hal ini dikarenakan siklus menstruasi setiap bulannya.

“Wanita cenderung mempunyai simpanan zat besi yang lebih rendah sehingga lebih rentan mengalami defisiensi saat asupan zat besi kurang atau kebutuhan meningkat,” katanya.

Menurutnya, anemia pada remaja akan menyebabkan gangguan pertumbuhan yang optimal dan tingkat kecerdasan yang menurun.

“Remaja putri yang menderita anemia dapat mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan daya konsentrasi belajar, kurang bersemangat dalam beraktivitas karena cepat merasa lelah,” jelasnya.

Akibat jangka panjang dari anemia pada remaja putri adalah apabila remaja putri hamil, maka ia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan zat-zat gizi bagi dirinya dan juga janin dalam kandungannya. Oleh karena itu keguguran, kematian bayi dalam kandungan, berat badan lahir rendah atau kelahiran prematur rawan terjadi pada ibu hamil yang menderita anemia.

Ia juga mengatakan bahwa kondisi janin dan status kesehatan ibu selama hamil sangat menentukan tumbuh kembang anak setelah lahir.

“Jika dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan dua tahun setelah lahir mengalami kekurangan gizi kronis, dikhawatirkan balita akan mengalami gagal tumbuh (stunting). Balita stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal dan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit”, tuturnya.

Lanjut Windu, data Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa prevalensi anemi pada ibu hamil 37,1%.

“Hal ini merupakan dampak lanjut dari tingginya prevalensi anemi pada remaja putri yaitu dan pada Wanita Usia Subur. Keadaan ini merupakan akibat dari asupan zat gizi besi dari makanan yang baru memenuhi sekitar 40% dari kecukupan”, katanya.

Untuk itu Windu berharap dukungan dari seluruh lini untuk turut aktif mensosialisasikan bahaya penyakit anemia di lapisan masyarakat. Tak terkecuali melalui strategi operasional penanggulangan anemia gizi yang dilakukan pendekatan multi sektoral untuk mencapai kepada sasaran yaitu remaja putri dan wanita usia subur.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Demak Ghufrin Heru Putranto, SKM mengatakan bahwa dalam kondisi normal, remaja putri minum obat Fe seminggu sekali, terlebih kalau lagi menstruasi harus ditambah lagi. Sedangkan untuk wanita hamil hendaknya minum obat Fe minimal 90 tablet selama kehamilan.

“Pemantauan tumbuh kembang dimulai sejak dinyatakan hamil atau usia Golden Age, yakni 1000 hari pertama kehidupan sejak di dalam kandungan. Pintar tidaknya tergantung 1000 hari itu. Apa saja yang dimakan dan bagaimana asupan gizinya”, pungkasnya.