SEMARANG, Mediajateng.net – Bermodal dedaunan kering, pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kamudhanaga, Banyumanik, Semarang, berkreasi membuat berbagai kerajinan tangan bernilai jual.
Hasanah Ratri Handayani, anggota Karang Taruna Kamudhanaga yang sekaligus penemu ide kreatif tersebut menjelaskan bahwa awal mula proses pembuatan kerajinan tersebut karena dirinya melihat banyak dedaunan kering yang berserakan. Bermodal pengetahuannya di bidang biologi yang dia miliki, mulailah dirinya melakukan percobaan-percobaan dengan dedaunan kering. “Ya, terinspirasi dari banyaknya dedaunan yang berjatuhan dan berserakan. Kenapa tidak dimanfaatkan?,” kata, Senin (26/9) di kantor Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga Kota Semarang.
Hastri, yang jebolan Jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu memutar otak untuk memanfaatkan sampah daun itu hingga akhirnya menemukan formula tepat pengolahan. “Daun kering yang kami kumpulkan, direbus dengan bahan kimia, kemudian ditiriskan dan dijemur, proses terakhir disikat hingga tersisa tulang daunnya. Terakhir, tahap pewarnaan,” katanya.
Berbagai produk kerajinan, mulai gantungan kunci daun beraneka warna, bunga hias diboks, baik yang perbiji maupun yang dirangkai, pembatas buku, hingga kaligrafi. “Tidak semua daun memang, sebab harus dicermati teksturnya. Biasanya, kami pakai daun pohon boddhi, sirsak, dan mahoni. Jadinya, seperti ini,” kata dia.
Dengan label “Lonleaf” yang membuka bengkel produksi di Jalan Karangrejo V RT 03/RW 03, Banyumanik, Semarang, Ratri dipercaya sebagai koordinatornya karena mempelopori temuan produk kerajinan itu. “Hasilnya lumayan. Yang paling banyak dicari adalah gantungan kunci. Dalam sebulan, permintaan sampai hampir 100 buah. Selebihnya, produk-produk lainnya. Ada sekitar 20-an anggota karang taruna,” katanya.
Senada dengan itu, Hanifah Widyaasari yang juga anggota karang taruna menambahkan produk kerajinan itu dikerjakan di sela waktu luang, sebab ada anggota yang masih bersekolah, berkuliah, dan bekerja. “Kalau hari-hari biasa, ibu-ibu sekitar juga membantu. Lumayan, mengisi waktu luang dengan sesuatu yang menghasilkan,” kata mahasiswi Fakultas Psikologi Unnes selaku “marketing”.
Untuk pemasaran, Widya mengungkapkan, saat ini sudah dikelola secara “online” dengan memanfaatkan jejaring media sosial, di samping pemasaran langsung dan “gethok tular” atau dari mulut ke mulut. “Sekitar setahun lalu dimulai. Jadi, para anggota karang taruna mengusulkan produk yang bisa dikreasi, kemudian produk dari daun ini yang dipilih karena dinilai lebih prospek dan bahannya sederhana,” pungkasnya.
Nantinya, kerajinan tersebut bakal dipamerkan pada gelaran Expo Kepemudaan Kota Semarang 2016 yang bakal digelar 1-2 Oktober mendatang di halaman parkir Wonderia jalan Sriwijaya. (MJ-016)

Comments are closed.