Semarang, mediajateng.net –Dengan penghentian operasional koridor baru BRT Trans Semarang secara sementara akan memberikan kesempatan adanya evaluasi secara menyeluruh baik terhadap operator maupun regulator angkutan massal tersebut.

“Hingga saat ini, tidak satupun koridor BRT yang membahagiakan para penggunanya.” seperti dikatakan pengamat transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Joko Setijawarno, hari ini, Jumat (7/4) dengan cukup kecewa.

Menurutnya, jalur BRT Koridor 6 Sekaran Gunung Pati tidak termasuk dalam kondisi rawan bagi seorang pengemudi BRT yang dinila sudah sangat terlatih dengan upah profesional pula. Hal ini berkaca dari pengalaman angkutan umum yang sebelumnya juga melewati jalur Unnes.

“Dulu ada layanan bus hingga Unnes, nyatanya jarang kecelakaan. Sehingga tidak perlu untuk dilakukan ruwatan.” tegasnya

Bekerjasama dengan Laboratorium Transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Djoko mengatakan dibangunnya koridor VI sebagai bagian inisiatif setelah melihat kondisi di jalur tersebut cukup banyak pengguna angkutan, namun tidak tersedia angkutan yang bagus dan terjadwal secara tetap.

Untuk kali kedua, armada BRT Trans Semarang mengalami kecelakaan di ruas Jalan Kolonel Hardijanto Sampangan, pada hari Jumat (7/4) pagi tadi. Armada dengan plat nomor H 1265 AW tersebut menabrak sebuah warung makan kosong. (MJ-202)