GROBOGAN, Mediajateng.net– Di usia ke 292, kembali masyarakat disuguhkan prosesi peralihan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan yang lebih dikenal dengan istilah Boyong Grobog, Sabtu (3/3/2018).

Tidak banyak perbedaan dalam prosesi dan pengiringan. Namun dibanding prosesi sebelumnya perbedaan menonjol adalah pada keberadaan jumlah gunungan. Jika sebelumnya gunungan yang berisi hasil bumi lebih dari 10, namun ditahun 2018 ini hanya ada tiga gunungan.

Itupun, dua gunungan besar berisi campuran sayur dan buah dan satu gunungan kecil berisi buah-buahan. Kendati begitu, keinginan warga untuk berharap berkah dengan ikut berebut gunungan tidak kalah menarik.

Kendati jumlah gunungan yang dibuat menurun, pada prosesi kali ini muncul puluhan tumpeng nasi kuning hasil persembahan warga dari Grobogan yang disuguhkan untuk tamu yang mengikuti prosesi pengarakan hingga prosesi rebutan gunungan.

Keberadaan nasi kuning dan berkurangnya jumlah gunungan, memang bisa saja dilakukan. Pasalnya, prosesi Boyong Grobog, memang prosesi yang baru saja digelar. “Baru keempat. Prosesi ini pertama digelar pada masa akhir jabatan bupati Bambang Pujiono-Icek Baskoro. Jadi jika ada perubahan jumlah gunungan bukan hal yang signifikan karena belum ada pakemnya,” kata Pujiyanto, pelaku wisata yang tergabung dalam Wisata Grobogan.

Jumlah gunungan yang disediakan panitia kali ini tinggal 3 gunungan. Hal itu hanya dianggap yang penting ada dan bisa terjadi prosesi rebutan gunungan atau karena alasan apa kita juga belum tahu. “Karena hanya berjumlah tiga gunungan saya rasa tidak menunjukan simbol apapun. Jumlah kecamatan tidak karena ada 19, jumlah desa dan kelurahan tidak mungkin lagi karena ada 200 an. Tapi terlepas dari perubahan yang mungkin dianggap kecil prosesi boyong grobog telah mampu menyedot perhatian warga khususnya di dua kecamatan yakni Grobogan dan Purwodadi,” katanya.

Tradisi boyong grobog yang dilaksanakan Sabtu (3/3) merupakan rangkaian awal HUT Grobogan ke 292. Tradisi yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari menyita perhatian ribuan pasang mata dari berbagai elemen masyarakat.

Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini prosesi boyong grobog ini berjalan sederhana. Meski dilaksanakan secara sederhana tetapi tidak meninggalkan kesan kemeriahan dalam kegiatan ini.

Usai kirab, Bupati dan para unsur pemerintahan duduk di sekitar pendopo kabupaten. Disuguhkan tarian gambyong dengan pengiring karawitan denga yogo atau penabuh yang didominasi perempuan.

Dilanjutkan dengan doa lintas agama yang dipimpin perwakilan pemuka agama di Kabupaten Grobogan. Usai doa, bupati menyampaikan wilujengan Bumi Pepali dengan bahasa Jawa.

Dikatakan Bupati dalam wilujengan bumi pepali ini tumbuh kearifan lokal dan kesejahteraan di tengah masyarakat Kabupaten Grobogan.

Dua buah gunungan yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan sebelah utara pendopo juga menyita masyarakat sekitar. Mereka berebut mengambil hasil bumi yang dipasang pada gunungan tersebut.

Keseruan terjadi ketika anak-anak naik ke atas gunungan untuk mendapatkan sayur dan buah-buahan kemudian dilemparkan kepada ibunya yang menunggu di bawah. “Ayo bu, opo meneh. Mumpung aku isih ning kene,” kata si anak, setelah melemparkan sebuah tomat kepada ibunya.

Meski jumlah gunungan tidak sebanyak tahun lalu, tetapi filosofi gunungan berisi hasil bumi ini diyakini masyarakat memberikan berkat kesejahteraan. “Kalau ada boyong grobog ini, saya suka menunggu rebutan gunungan. Saya yakin dapat berkat dari apa yang saya dapatkan ini,” kata Ida, warga Purwodadi yang berhasil mendapatkan kacang panjang dan tomat.

Selain gunungan, nasi tumpeng lengkap dengan ingkung ayam disajikan untuk dihidangkan kepada para tetamu dan masyarakat yang hadir dalam prosesi selamatan ini. Beralaskan karpet merah yang telah disediakan di halaman sisi timur pendopo, mereka menikmati hidangan ini.(Agung-MJ)