Berbincang Sastra, Komunitas Serambi Perpus Mojok di Angkringan Hoi

SEMARANG, Mediajateng.net – Tidak hanya di ruang-ruang nyaman, ber-AC, atau di ruang kuliah saja, di angkringan sederhana dengan hidangan kopi hangat dan gorengan pun bisa dijadikan ruang kreatif. Misalnya saja yang dilakukan Komunitas Serambi Perpus (15/8) dalam Tadarus Novel Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo.
Sore itu, di Angkringan Hoi, sudut sebelah timur stadion Sidodadi Semarang, menjadi ajang pertanggungjawaban pembaca atas perjalanan menekuri kisah-kisah yang disajikan penulis dalam dunia fiksinya. “Ini forum kecil-kecilan yang kami selenggarakan. Kami lakukan jika ada waktu senggang selepas melakukan aktivitas wajar di kampus. Bersama mahasiswa atau teman, atau siapa saja yang punya minat dalam dunia literasi, peminat baca dan penulis. Intinya forum ini belajar bersama. Hadirin kami persilakan untuk ngobrol, misalnya saja pada kesempatan kali ini, kami lakukan obrolan tentang novel,” tutur Setia Naka Andrian, pengajar sastra Universitas PGRI Semarang.
Menurut laki-laki berperawakan kecil tersebut, bahwa aktivitas semacam itu dilakukan tidak hanya bahasan karya buku, namun juga mengajar untuk belajar menulis. Entah tulisan puisi, cerpen, atau bahkan tulisan panjang berupa novel. “Ini kesempatan menarik, melalui novel Tarian Dua Wajah, kami mulai menyadari lebih mendalam terkait hal-hal kecil di sekitar yang kerap kali luput dari amatan. Dalam novel ini, penulis jeli menyikapi hal-hal sederhana di sekitarnya untuk diangkat menjadi kisah yang inspiratif dan kental nuansa spiritualnya, teman-teman mahasiswa merasa mendapat kesejukan dan curahan kemuliaan melalui novel ini,” tutur Naka, penyair muda yang baru-baru ini menerbitkan buku puisinya Perayaan Laut.
Serambi Perpus ini semula hanya berawal dari kegelisahan Naka melihat mahasiswa di sekitarnya hanya luntang-lantung selepas menjalani aktivitas perkuliahan. Lalu ia mengajak berkumpul beberapa mahasiswa yang memiliki minat sastra. Mereka berkumpul di sudut perpus, maka sontak forum kecil tersebut diberi nama Serambi Perpus. “Saya merasa tergugah untuk belajar sastra lebih dalam. Forum ini menggugah saya untuk berbuat banyak ketika menyelami masa kuliah semacam ini. Ini bagi saya forum yang jarang, saya tidak hanya bertemu dan belajar dari pengajar saya di kampus saja, namun saya ditemukan dengan beberapa orang hebat, para penulis, seniman yang tentunya masih merupakan teman-teman dari pengajar saya,” ungkap Luluk Atul Funadah, salah seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia semester 2.
Menurut Luluk, pembacaan atas novel Tarian Dua Wajah ini menjadi pengalaman yang tak terduga, menurutnya banyak kisah yang sebenarnya sederhana, namun melalui tangan penulisnya, kisah menjadi menarik dan menggugah. “Terutama terkait kisah kiai dan lingkungan pesantren yang dikisahkan dalam novel. Saya merasa menemukan hal-hal yang begitu menggugah saya. Bahkan saya merasa semakin sangat berdosa, ternyata banyak hal di dalamnya yang begitu menampari saya untuk menjalani kehidupan ini menjadi lebih baik lagi, dan menjadi lebih baik lagi,” tutur Luluk.
Serambi Perpus selain menciptakan forum-forum diskusi, juga melakukan aktivitas yang lebih serius, termasuk pembimbingan yang lebih sempit terhadap para peminat proses kreatif. “Selain forum yang dihadiri banyak orang, kami juga menyelenggarakan pembelajaran menulis dengan pembimbingan empat mata. Bertemu secara intens di tempat-tempat semacam kedai kopi, angkringan. Kami membicarakan dengan lebih serius terkait karya yang sedang diciptakan. Misalnya ada yang minat puisi, ya sudah habis-habisan kami gembleng perihal prosesnya dalam menulis puisi. Jadi ini yang kami utamakan, tiap bertemu kalua yang semacam ini tidak banyak. Paling hanya dua atau tiga orang, nanti satu persatu ngobrol serius tentang karyanya,” tutur Naka.
Khoiri Abdillah, sutradara dan aktor Teater Nawiji, yang merupakan pemilik Angkringan Hoi, mengatakan jika angkringannya kerap kali digunakan oleh teman-teman seniman teater, sastra, dan lainnya untuk berkumpul, bertemu dan menyelenggarakan acara kecil-kecilan. “Angkringan ini saya buat sebenarnya atas kegelisahan saya pribadi, saya merasa butuh teman untuk ngobrol yang sok-sokan kreatif. Maka ya saya coba membuka angkringan ini, selain ingin mencari tambahan penghasilan, ya yang lebih utama ingin menciptakan ruang-ruang bertemu dalam proses kreatif teman-teman saja,” tutur Abdillah, salah seorang seniman teater muda Semarang yang sempat dinobatkan sebagai sutradara terbaik Java On Stage di Jepara beberapa tahun silam.
“Ini acara sangat dadakan, bahkan hanya persiapan satu hari saja. Ya, kemarin baru kami bersepakat untuk membahas novel ini. Padahal selepas acara berlangsung, ada teman menggunggah foto kami, hingga ditandai penulisnya, Pak Prasetyo. Akhirnya Pak Prasetyo malah bilang, kenapa kok saya tidak diberitahu. Beliau berharap, kelak lain waktu jika ada lagi, beliau ingin diberi kabar, dan mengusahakan untuk datang,” pungkas Naka. (MJ-017)

Comments are closed.