Puluhan warga kota Semarang terlihat rela antri di halaman Gedung Balai Pelatihan Kesehatan di kawasan jalan Pahlawan, hari Minggu (19/3) pagi, untuk melakukan cek kesehatan menggunakan spirometer, yang tak lain mengukur kualitas paru – paru dan kadar C02 karbondioksida dalam tubuh.

“Hasilnya dari rata – rata yang melakukan cek kesehatan, masyarakat mengalami gangguan dalam pengembangan organ paru – paru. Hal ini dipengaruhi kondisi fisik tubuh yang menurun, seperti halnya terkena influenza, batuk, pilek dan asma. Dan yang paling parah, kandungan CO2 karbondioksida, rata – rata masih tinggi. Perokok, terutama.” kata Hariyanto selaku paramedis perawat di Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Kegiatan tes kesehatan yang berlangsung hari ini merupakan rangkaian kegiatan menyambut peringatan Hari Tuberkulosis Se- Dunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2017, nanti. Menuju Indonesia bebas TB pada tahun 2050, pemerintah terus menggerakkan pengawasan terhadap pengobatan pasien TB hingga sembuh. Tidak lain agar rantai penularan TB di Indonesia dapat dihentikan.

Tuberkolosis atau TB menurut Muhammad Sabbardi dari Advokasi Komunikasi dan Mobilitas Sosial TB-HIB Care Aisyiyah Jawa Tengah, lebih cepat menular melalui perantara udara. Bahkan penderita TB sudah mulai banyak yang kebal obat. Mereka penderita TB yang sudah kebal obat ini akan menularkan virus kebal obat pula ke orang lain. Padahal untuk menyembuhkan yang sudah kebal obat, harus teratur meminum obat selama 2 tahun.

“Belum seluruh fasilisitas kesehatan mampu menangani penderita TB dengan status kebal obat.” tambahnya (MJ-202)