SEMARANG, Mediajateng.net -Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng meringkus seorang mahasiswa berinisial Chandika Pratama (21) warga Bandung, Jabar. Ia ditangkap lantaran kedapatan membeli ekstasi dari Belanda menggunakan bitcoin.

Mahasiswa semester akhir Fakultas Ilmu Kelautan Undip itu membeli 9 butir ekstasi berbentuk permen segitiga warna hijau seharga Rp 800 ribu. Pembelian melalui dari web.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengungkapkan Chandika Pratama membeli ekstasi (MDMA) dari Belanda. “Ini adalah pembelian yang kedua, sebanyak sembilan butir seharga Rp 800 ribu,” jelasnya, Rabu (4/4). Pembelian pertama dilakukan tersangka pada Desember 2017.

Menurut Tri Agus, tersangka ditangkap pada 26 Maret 2018 sekira pukul 21.30 WIB. Saat itu, mahasiswa salah satu kampus negeri berada di warung angkringan Jalan Tirto Husodo Pedalangan, Banyumanik.

Ketika akan meninggalkan warung, dia disergap dan petugas menggeledahnya. Ternyata CPI menyimpan satu amplop putih berisi sembilan ekstasi warna hijau dengan logo Tiga Berlian di tasnya.

Transaksi menggunakan bitcoin dipilih mahasiswa asal Bandung itu karena lebih murah dibandingkan membeli di Indonesia yang harganya Rp 400 ribu per butir. Meski demikian BNNP Jateng masih mendalami apakah mahasiswa tersebut merupakan pengedar atau bukan.

“Kita proses hukum. Belum sampai ke sana (pengedar atau bukan),” tandasnya.

Transaksi narkoba dengan uang virtual ternyata merupakan modus baru. Pembelinya pun harus masuk ke komunitas tertentu sehingga sampai saat ini masih diselidiki. Maka dari itu dengan adanya bitcoin diakuinya semakin memudahkan para pengguna narkoba untuk membeli barang haram tersebut. Pihaknya mengaku kesulitan untuk membongkar transaksi narkotika yang menggunakan bitcoin.

“Untuk itu, kami bekerjasama dengan Bea dan Cukai untuk pelacakan barang kiriman dari luar negeri. Tergolong baru pakai bitcoin. Ini pengawasan dalam hal transaksi susah dilacak,” ujarnya.

CPI ternyata sudah pernah berhasil membeli ekstasi pada akhir 2017 lalu. Barang haram tersebut berhasil lolos dari Bea Cukai karena pengawasan barang yang sangat banyak dan sulit dideteksi. Kiriman kedua berhasil digagalkan dengan pengontrolan kiriman selama 15 hari.

“Bisa jadi seperti itu (sulit dideteksi) karena dalam sehari ada ratusan kiriman dari luar negeri. Kami punya cara kerja dan manajemen risiko. Bayangkan kalau kita buka satu persatu surat nanti banyak masyarakat komplain karena lama, maka kami profilling,” terang Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Emas Semarang, Tjerja Karja.

Untuk diketahui, CPI ditangkap di sekitar kosnya di kampus Undip Tembalang tanggal 26 Maret 2018 malam lalu. Kepala BNNP Jateng merasa prihatin karena mahasiswa terlibat narkoba, dan tercatat pada tahun 2017 lalu mahasiswa dan pelajar menyumbang 27% dari 500 ribu penyalahguna narkoba.