DEMAK, Mediajateng.net – Di era milenial, media sosial menjadi sebuah identitas individu. Hampir setiap hari, orang bersinggungan dengan Facebook, Instagram maupun Tweeter. Jutaan orang menggunakan media sosial itu, untuk mengapresiasikan dirinya melalui postingan foto dan video maupun mengunggah status terbaru.

Akan tetapi, ketikan jari di media sosial terkadang menjadi boomerang bagi diri sendiri.

Media sosial yang harusnya menjadi tempat untuk saling berbagi informasi dan menyambung silaturahmi, justru sebagai ajang saling menghujat dan menyebarkan hoaks (berita bohong).

“Kita harus bisa menjaga sikap dan bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan malah dibuat untuk menyindir ataupun menjelek-jelekkan orang atau pihak tertentu, bisa – bisa berakibat fatal dan berurusan dengan hukum,” kata Munir Al Misbah, Direktur Lembaga Bantuan Hukum(LBH) Demak raya, saat memberikan materi di kelas inspirasi PKBM Mukti Utama yang dilaksanakan di SD Negeri Kedunguter, Kecamatan Karangtengah, Minggu (2/9/2018).

“Jangan asal nyerocos di media sosial , seakan-akan paling pintar dan benar, kita bisa dijerat UU ITE, ” lanjutnya.

Dihadapan para peserta kelompok belajar Paket B dan Paket C , pengacara muda itu mengajak mereka untuk ikut berpartisipasi melawan hoaks yang akhir akhir ini kian marak. Terlebih saat ini Indonesia terbelah menjadi dua karena pemilihan presiden.

“Saat ini hoaks sedang booming. Jangan terpengaruh ikut – ikutan menebarkan hoak dan mudah terbawa isu – isu tidak benar serta menyampaikan ujaran kebencian karena beda pilihan. Kita harus cerdas dan cerdik ketika menggunakan media sosial, ” tandasnya.

Menurut Munir, dulu dikenal peribahasa “Mulutmu adalah Harimaumu”, namun di zaman android ini, “Jempolmu adalah Harimaumu”. Dengan jempol yang kita gunakan untuk mengetik status dan membagikan berita di media sosial bisa membawa kita ke penjara. Jika yang dibagikan status menyinggung orang lain dan memuat ujaran kebencian maupun hoaks.

“Bermedsos yang baik itu jangan menyinggung dan menjelek jelekan orang lain. Kendalikan ego dan emosi, jangan membuka peluang musuhan di medsos. Kalau ‘nggrundel’ di rumah saja, curhat karo bojone, jangan curhat di medsos, ” ujarnya.

Lebih lanjut Munir mengajak seluruh peserta kejar Paket B dan Paket C agar semangat menempuh pendidikan jalur non formal, karena belajar tidak mengenal waktu dan batasan usia. Belajar menjadi
kunci bagi kemajuan kita.

“Bapak, ibu, mas dan mbak tidak usah malu, belajar itu menambah ilmu kita. Saya sangat mengapresiasi PKBM Mukti Utama
yang telah memberikan akses pendidikan bagi warga putus sekolah ini,” ucapnya.

Sementara itu, Ari Widodo, Ketua PKBM Mukti Utama, mengatakan, selain pembelajaran mata pelajaran umum, pihaknya juga membuka kelas isnpirasi setiap bulannya. Adapun narasumber yang didatangkan sebagai guru tamu, merupakan praktisi maupun pakar yang ahli di bidangnya, baik pakar politik ekonomi, sosial, budaya, hukum dan sastra.

“Kelas inspirasi ini sebagai sarana belajar bersama untuk menambah pengetahuan, sehingga teman – teman peserta Paket B dan Paket C, lebih termotivasi, mempunyai pengalaman baru dan terbuka wawasannya,” katanya.