Beberapa Kali Tersandung Kasus, Pemkot Semarang Belum Juga Segel Zeus Karaoke

0

SEMARANG, Mediajateng.net, РSalah satu tempat hiburan yang berlokasi di Hotel Grand EDGE Jalan Sultan Agung Semarang, Zeus Karaoke, belum juga ditutup oleh Pemkot Semarang. Padahal izin operasi diketahui telah habis sejak April 2019 dan sejumlah kasus prostitusi yang terjadi ditempat tersebut juga telah ditangani pihak kepolisian.  Meski sudah ada tersangka tapi kasusnya hingga kini belum ada kelanjutanyya.

Tahun 2018, Polrestabes Semarang menyidik kasus prostitusi yang dilakukan Zeus yang berkedok karaoke. Seorang ditetapkan sebagai tersangka. Namun hingga Desember 2019 ini, kasus tersebut menguap tanpa ada kabar selanjutnya.

“Diduga kuat ada permainan antara management Zeus dengan penyidik Polrestabes Semarang,” ujar Koordinator Gabungan Element Masyarakat Peduli Amanat Reformasi (GEMPAR) Jateng, Wijayanto.

Bahkan Wijayanto menegaskan, kalau tidak ada permainan kenapa kasus prostitusi itu sampai mangkrak.

“Kasus prostitusi itu kan kasus ecek-ecek. Anehnya, tersangka sudah ada, barang bukti sangat cukup, pengakuan juga mendukung, tapi kenapa polisi tidak memproses lebih lanjut kasus itu,” ujarnya.

Bahkan kasus tersebut lanjut Wijayanto, sudah sampai ke Mabes Polri dan sudah diintruksikan ke Polda Jateng, namun juga tidak ada tindak lanjutnya.

“Yang Sakti itu Zeus Karaoke, bisa menyetir aparat kepolisian hingga kasusnya mandek,” tandasnya.

Kesaktian Zeus Karaoke lainya, beberapa bulan lalu, Tim Reskrimum Polda Jateng juga menggrebek kasus yang sama dan seorang ditetapkan sebagai tersangka.

“Polda Jateng menggrebek dan sempat menyegel Zeus Karaoke, namun hanya 2×24 jam, police line dibuka dengan dalih barang bukti yang dicari telah cukup,” tandasnya lagi.

Bahkan Direskrimum Polda Jateng Kombes Pol Budhi Haryanto menegaskan akan memproses rekomendasi untuk menutup operasional, namun sampai sekarang kasusnya juga tidak ada kabarnya.

“Kasus di Polda, meski sudah ada tersangka tapi juga nggak ada kabarnya, bahkan yang katanya akan menerbitkan rekom juga belum terealisasi,” tandasnya.

Kesaktian lainnya lanjut Wijayanto, meski ijin usahanya telah mati sejak April 2019 hingga Desember 2019, Pemkot Semarang tidak berani menyegelnya.

“Dari April hingga Desember 2019 Pemkot kemana aja ? Seperti sengaja dibiarkan. Ironisnya, kasus prostitusi yang ditangani Polda disaat Zeus Karaoke tidak berijin,” lanjutnya.

Untuk diketahui, Pemkot Semarang berhasil menutup lokalisasi Sunan Kuning dan GBL, bahkan Pemkot Semarang harus mengeluarkan APBD hingga milyaran.

“Terus apa bedanya Sunan Kuning dan GBL dengan Zeus Karaoke, toh¬† sama-sama melakukan prostitusi. Tapi kenapa Pemkot Semarang seolah-olah tidak berani menutup Zeus ? Apakah Zeus memberikan upeti besar ? Wallahu A’lam,” tandasnya.

Beberapa hari lalu, Sekda Kota Semarang Iswar Aminudin juga mengeluarkan statemen akan menutup Zeus Karaoke karena ijinnya telah habis sejak April 2019.

“Kita akan mengirimkan surat teguran untuk menutup Zeus Karaoke karena ijinya telah habis sejak April 2019, selain itu karena kasus prostitusi yang ditangani kepolisian, tapi kita harus mengikuti prosedur,” ujar Iswar.

Namun, pernyataan Sekda Iswar Aminudin sepertinya tidak diperhatikan oleh dinasnya, baik Dinas Pariwisata maupun Satpol PP sebagai eksekutor seperti tidak berdaya.

Hal ini dibuktikan, hampir dua minggu Dinas Pariwisata tidak juga menjalankan instruksi Sekda untuk melayangkan surat teguran. Bahkan Satpol PP yang terkesan sangar dalam menegakkan Perda pun seolah-olah mlempem dengan dalih tidak mau gegabah.

Sehingga hal tersebut menjadi pergunjingan berbagai kalangan, kenapa Pemkot tidak langsung menyegel toh tidak berijin.

“Kalau pun ada proses pengajuan ijin lagi, harusnya tempat itu ditutup dulu, bukan dibiarkan buka. Satpol PP juga aneh, karaoke liar dibombardir bahkan diratakan dengan tanah, tapi Zeus seperti dibiarkan,” tandas Wijayanto.

Wijayanto juga mengkritisi, bahwa perijinan baru bisa dibuat setelah tempat yang lama ditutup. Celah ini yang sepertinya dimanfaatkan oleh pengusaha nakal.

“Semua pengusaha karaoke boleh melakukan pelanggaran, boleh menjajakan prostitusi bahkan narkoba, toh setelah ditutup bisa mengajukan ijin baru,” tandas Wijayanto lagi.

Dari fakta-fakta yang ada, Wijayanto menduga ada mata rantai distribusi upeti sebagai bahan untuk melegalkan usaha yang ilegal.

Sehingga Zeus Karaoke yang ilegal karena tidak berizin bisa melakukan usahanya dengan mulus tanpa pantauan aparat maupun Pemkot Semarang. Bahkan informasi terakhir, Management Zeus telah mengajukan rekomendasi untuk pengajuan izin baru.

“Ini kan pelecehan bagi Pemkot Semarang. Sudah tahu tidak berizin, setelah akan ditutup mengajukan izin baru,” pungkasnya. (ot/mj)