Semarang, Mediajateng.net – Penanganan dampak bencana kekeringan melalui program pembangunan seribu embung di wilayah Jawa Tengah, masih dipertanyakan keseriusannya.

Dr. Ir. Tedjo Mulyono, MT, selaku Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Polines Semarang mengatakan karena secara teknologi, membangun embung jelas tidak sulit. Dengan memiliki seribu embung, kekeringan yang terjadi di Jawa Tengah saat ini diharapkan tidak semakin meluas.

“Dari seribu yang ditargetkan, hanya sekitar 75 embung yang berhasil dibangun, pastinya ada masalah di dalamnya. Seribu embung dengan total anggaran Rp 2 triliun, bagaimana komitmen Pemerintah Jawa Tengah membangun embung ini,” kata Tedjo dalam diskusi Mengakhiri Kekeringan, yang digelar di kawasan kampus Polines Tembalang Semarang, Senin ( 27/8 ).

Padahal menurut Kepala Bidang Irigasi Air Baku dari Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang, Provinsi Jawa Tengah, Ir. Ketutu Arsa Indra Watara, keberadaan embung ini sangat membantu untuk menyelamatkan tanaman padi palawija dan sistem irigasi yang dimiliki petani.

“Embung akan bermanfaat untuk memarkir air di saat kekeringan, dan ini sangat jauh lebih efektif mengatasi kekeringan saat ini. Meski bukan berfungsi untuk memberikan ketersediaan air minum baku bagi masyarakat terdampak,” katanya.

Bencana kekeringan sejak awal bulan Juli 2018 terus meluas di wilayah Jawa tengah, dengan total cakupan mencapai 112 kecamatan terkena dampaknya. Agar tidak berdampak meluas ke sektor pertanian mengancam ketersediaan pangan, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah meminta agar para petani pun sepakat selama musim kemarau ini tidak melakukan tanam komoditas padi.

“Sebelum kemarau terjadi, kita sudah sepakat tentang hal ini. Jangan sampai hal ini diulangi tahun depan, saat musim kering kembali terjadi.” tutup Ketut

1 KOMENTAR

Comments are closed.