SEMARANG, Mediajateng.net- Masyarakat seluruh Jawa Tengah harus mulai mencermati fenomena alam dengan berubahnya siklus hujan tahun ini yang lebih pendek.

Sehingga akibatnya berdampak terhadap ketidakstabilan musim kemarau yang menjadi lebih panjang. Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah, Ir. Sr. Eko Yunanto.

Mencermati fenomena alam yang sedemikian tidak seimbang ini, masyarakat didorong untuk mulai aktif dalam “menabung” air di sekitar tempat tinggal.

“Faktanya, selama ini pemerintah lah yang cenderung mengambil langkah aktif dalam mengatasi fenomena kemarau krisis air yang panjang.” demikian penjelasan Eko saat berdiskusi “Ayo Panen Air” di Noormans Hotel Semarang, Rabu, (17/07)

Dorongan senada juga disampaikan oleh M. Ngainirrichadl selaku Komisi D DPRD Jawa Tengah, bahwasannya hampir 80 persen air yang ada di wilayah Jawa Tengah, masih terbuang dengan sia – sia. Padahal dengan menabung, pasokan air tersebut masih bisa dimanfaatkan secara maksimal pada saat kemarau panjang datang.

“Kebijakan pemerintah kurang mampu memberikan desakan kepada masyarakat untuk aktif mengelola air yang ada di lingkungan terdekatnya. Contohnya saja kebijakan pembuatan embung yang digalakkan pemerintah, justru terkendala di tangan masyarakatnya sendiri,” tambah Richadl

Kepala Pusat Penelitian Delta Center on Climate Change Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Prof Dr. Ir. S. Imam Wahyudi, DEA mengatakan, selama ini belum banyak masyarakat yang peduli akan ketersediaan air, terutama mereka yang tinggal berdekatan dengan daerah aliran sungai. Padahal kondisi daerah aliran sungai harus terus menerus dipelihara.

“Masyarakat tidak punya sumur – sumur resapan, untuk bisa memelihara tangkapan air di kawasan blue area atau pemukiman. Inilah yang harus didorong agar kedepan masyarakat bisa memanen air. ” katanya.mj-edo