DEMAK, Mediajateng.net – Persoalan sampah, adalah masalah klasik yang terus menghantui peradapan manusia saat ini maupun di masa mendatang, tak terkecuali di Kabupaten Demak.

Bukan hanya di perumahan dan perkotaan , di desa pun , pengelolaan sampah menjadi permasalahan baru baik itu sampah organik maupun sampah peradaban seperti plastik, kardus, produk industri dan masih banyak lagi.

Kurangnya tempat penampungan sampah menjadi salah satu alasan banyaknya sampah yang berceceran, baik di jalan, gang – gang sempit, selokan maupun sungai. Namun yang tak kalah penting, kurangnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Dan
pada akhirnya, masyarakat sendiri yang terkena imbas secara langsung dan dirugikan.

“Sampah itu persoalan besar tapi kita tidak sadar. Seperti di Desa Dukun ini, saya lihat banyak sampah dimana mana. Sampah neng kali kok koyo ngono,” kata Sunari, Anggota DPRD Kabupaten Demak, Daerah Pemilihan (Dapil) III, saat menggelar reses di Desa Dukun, Kecamatan Karangtengah, Minggu (1/7)

Acara yang berlangsung di kantor balai desa itu dihadiri oleh Kurnia Zauharoh,
Kabid Pengolahan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, Kades Dukun, Sukono, sejumlah perangkat desa, karang taruna dan tokoh masyarakat Desa Dukun.

Sunari menambahkan, tidak hanya di Desa Dukun, hampir seluruh desa di Kabupaten Demak juga banyak dijumpai persoalan sampah.

“Di sini sampah, di sana sampah. Di mana mana banyak sampah. Dilihat mata kan gak enak, belum lagi dampak buat kesehatan dan lingkungan kita,” sesalnya

Jika sehari, sampah yang dihasilkan setiap desa mencapai satu kubik saja, dalam satu bulan bisa mencapai 30 kubik. Dan dalam hitungan setahun hingga sepuluh tahun, jika sampah sampah itu tidak segera teratasi, tentunya dampak yang ditimbulkan akan semakin parah.

“Bisa – bisa kita tidak punya sungai, karena tertutup sampah. Kalau sudah begitu, kita sediri yang rugi. Kalau ada plastik di depan mata, mbok yo diambil. Paling butuh berapa menit to. Jadi, lingkungannya bisa bersih, sedap dipandang mata, ” ujar politisi Partai Golkar itu.

Menurut Sunari, bukan tidak ada solusi mengatasi persoalan sampah, tetapi rata-rata para penghuninya tidak mau direpotkan oleh biaya pembayaran pembuangan sampah oleh pihak terkait. Karena itulah, agar masyarakat tertib membuang sampah, diperlukan kesadaran bersama, kebersamaan warga, rasa memililki dan gotong royong.

“Apalagi sampah sampah di desa, belum pernah mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Demak.
Sampah yang dikelola Pemkab Demak, hanya sampah pasar dan kota, itupun yang menanganinya banyak instansi. Jadi, perlu peran serta pemerintah desa dan masyarakat,” ucap Sunari yang juga Ketua Komisi A DPRD Demak.

Menurut Sunari, diperlukan aturan sebelum dilaksanakan tindakan-tindakan pengelolaan dan preventif. Peraturan desa (Perdes) tentang sampah menjadi hal yang sangat penting agar segera disusun dan ditetapkan.

“Kami akan mendukung ada Perdes tentang pengelolaan sampah. Ini salah satu solusi mengatasi persoalan sampah di desa. Bukan hanya perdes, bila perlu Pemkab juga membuat raperda terkait persoalan sampah, ” terangnya.

Melalui perdes tersebut, tentunya akan menjadi jelas aturan-aturan yang berimbas pada penghargaan dan hukuman bagi yang melaksanakan maupun yang melanggarnya. Hal ini diperlukan agar pengelolaan sampah oleh masyarakat diiringi dengan bersihnya lingkungan yang tidak terdeteksi oleh warga.

“Hukuman bisa menjadi opsi agar memberikan efek jera. Tentu hukuman harus disesuaikan dengan nilai-nilai norma, adat, dan nilai hukum agar bisa dipahami bersama dan tidak menimbulkan masalah baru ke depannya,” tutupnya.