Semarang – medijateng.net

Wiharto (41) warga Karangroto, Genuk Semarang otak pembuatan uang palsu yang ditangkap petugas Resmob Polrestabes Semarang merupakan residivis pada kasus yang sama pada tahun 2007 silam. Usai menjalani masa hukuman pelaku ini menjalani profesi sebagai tukang sablon untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Lantaran sepi order sejak tahun 2015 silam Wiharto merekrut Bahri (45) warga Banowati Raya untuk melakukan kejahatan berupa pemalsuan uang dengan menggunakan peralatan yang lumayan canggih, termasuk membuat uang palsu emisi terbaru dengan pecahan Rp.50 dan Rp. 100 ribu.

” menjadi tukang sablon tidak jelas mas, rame pada momen tertentu saja. Akhirnya saya putuskan untuk membeli printer dan belajar secara otodidak mulai dari menscaning hingha proses pemotongan uang di kertas HVS,”kata Wiharto.

Dari Keterangan Kapolrestabes Semarang Kombes Abioso Seno Aji mengungkapkan bahwa Wiharto ini mencetak uang palsu ini, selain menggunakan sablon pelaku ini menggunakan seperangkat komputer lengkap dengan printer seharga Rp.16 Juta.

“Peralatan cetak dan sablon milik pelaku ini tergolong canggih. Pernah dicoba dibelanjakan di swalayan waralabs lolos dari pemeriksaan sinar ultra violet. Tapi lebih sering dibelanjakan di warung klontong dan pasar trasisional,” Ujar Abioso.

Abioso menambahkan, dalam aksinya Wiharto menyuruh Bahri untuk mencari orang yang bisa mengedarkan uang palsu dengan iming-iming uang asli senilai Rp.1, 250 juta ditukar dengan Rp.5 Juta Uang palsu.

Dari penggerebakan ini petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa uang palsu siap edar sebanyak Rp. 200 juta, Uang palsu yang belum dipotong sebanyak Rp.400 Juta, Uang asli hasil penjualan upal Rp.7.720.000, dua alat sablon, printer, 7 buah Scaner, satu buah laptop dan puluhan tinta berwarna.

Sedangkan peredaran uang palsu ini ditargetkan oleh komplotan ini hingga menyebar ke seluruh Jawa Tengah. Untuk sementara peredaran uang palsu ini sudah merambah sejumlah kota diantaranya Semarang, Salatiga, Sragen dan Demak. (MJ-303)