DEMAK, Mediajateng.net – Ratusan perusahaan di Kabupaten Demak, diduga banyak yang mengabaikan pengelolaan limbah industri mereka.

Perusahaan yang beroperasi di wilayah Demak itu, disinyalir tidak mentaati regulasi terkait pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dihasilkan oleh sisa produksinya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan, Berbahaya, dan Beracun, setiap perusahaan yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan.

Pengelolaan limbah tersebut meliputi pengurangan, pengumpulan, pengangkutan,penyimpanan, pemanfaatan, pengelolaan dan penimbunan.

Dari 300 perusahaan yang tersebar di wilayah Demak, hanya 10 persen saja atau sebanyak 32 perusahaan yang aktif melaporkan pengelolaan limbah B3 mereka, sedangkan ratusan perusaan lainnya belum melaporkannya ke instansi terkait.

“Hanya 32 perusahaan saja yang aktif laporan, sisanya masih kita tunggu laporannya secara intens. Kami banyak mendapat laporan dari masyarakat, terkait limbah dari perusahaan besar dan kecil,” kata Agus Musyafak, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, di sela – sela acara workshop tata kelola limbah B3 di Pendopo Demak.

Menurutnya, bagi perusahaan yang tidak mengindahkan ketentuan, terkait pengelolaan limbah B3, maka perusahaan tersebut dapat dikenai sanksi, baik perdata, pidana hingga pencabutan izin.

“Jika dampak limbah B3 itu hingga memakan korban jiwa, tentunya bisa kena sanksi pidana, ” tandasnya.

Musyafak meminta peran serta masyarakat agar aktif dan melaporkan, jika menemukan kerusakan akibat dampak B3 di lingkungannya.

“Kita tidak bisa setiap hari memantau terkait pengolahan limbah di masing-masing perusahaan, karena itu jika ada laporan, kami akan tindaklanjuti ke lapangan, ” pungkasnya.